Senin, 10 Oktober 2016

Filsafat Ilmu Pengetahuan


FALSAFAT ILMU PENGETAHUAN
                                                              

A.      Pendahuluan

Perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab falsafah”, yang berasal dari bahasa Yunani,“philosophia”,yangberarti “philos” (cinta),suka dan “sophia” (pengetahuan),  hikmah (wisdom). Jadi “philosophia” berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “philosopher”, dalam bahasa Arabnya “failasuf". Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.

Pertama-tama perlu dipahami antara istilah: “pengetahuan”, “ilmu pengetahuan”, dan “filsafat”.

Untuk memahami dapat dilihat beberapa penjelasan seperti dijelaskan pada hal-hal di bawah ini.

Definisi tentang ilmu pengetahuan adalah:

1.    Ralph Ross mengatakan bahwa: Science is empirical, rational, general, and cumulative; and it is all four at one (ilmu ialah yang empiris, yang rasional, yang umum dan bertimbun bersusun; dan keempat-empatnya serentak).

2.    Karl Pearson pengarang karya: Grammar of Science, merumuskan sbb: Science is the complete and consistent description of the facts of experience in the simplest possible terms (Ilmu pemgetahuan ialah lukisan atau keterangan yang lengkap dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana/ sesedikit mungkin).

Jadi, dengan bertolak dari definisi di atas penulis menyimpulkan, bahwa ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian bagian dan hukum hukum tentang hal yang diselidiki (alam, agama, dan manusia) sejauh yang dapat dijangkau daya pikir yang dibantu indra manusia, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset, dan eksperimental.

B.       Pengertian Filsafat

Terkait dengan pengertian filsafat, perlu ditegaskan di sini bahwa dalam garis besarnya filsafat minimal mempunyai tiga dimensi besar, yakni:

1.    dimensi epistemologis

2.    dimensi ontologis

3.    dimensi aksiologis

Inilah keseluruhan filsafat dalam garis besar yang ringkas. Untuk itu agar lebih jelas tentang kapling-kapling filsafat dimaksud adalah sebagai berikut:

1.    Dimensi epistemologis, yakni dimensi yang membicarakan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Runes (1971: 94) dalam kamusnya menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge. Itulah sebabnya sehingga sering disebut dengan istilah filsafat pengetahuan, karena ia membicarakan hal pengetahuan. Untuk hal ini ada beberapa aliran yang membicarakan, seperti:

a)         Aliran empirisme, yakni kata yang berasal dari kata Yunani empeirikos yang asal katanya adalah empeiria, artinya pengalaman. Oleh sebab itu, menurut aliran ini bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. John Locke (1632-1704), bapak aliran ini pada zaman Modern mengemukakan teori tabula rasa yang dalam bahasa Indonesia adalah meja lilin. Maksudnya adalah bahwa manusia pada mulanya kosong dari pengetahuan, kemudian pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, sehingga manusia memiliki pengetahuan.

b)        Aliran Rasionalisme, yakni aliran yang menyatakan bahwa “akal adalah dasar kepastian pengetahuan”. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Menurut aliran ini, bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini di zaman Modern adalah Rene Descartes (1596-1650), ini benar. Akan tetapi sesungguhnya paham semacam ini sudah ada jauh sebelum itu, yakni orang orang Yunani Kuno telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada Aristoteles yang teleh disebutkan di depan. Di samping kedua aliran ini masih banyak aliran filsafat yang belum disebutkan di sini.

2.    Dimensi ontologis, hal ini setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filsuf mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan  teori hakikat, yang biasa disebut dengan istilah ontologi (Ahmad Tafsir, 2009: 28). Bidang bahasan dalam dimensi ontologis ini sangat luas, yakni segala yang ada, dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai (yang dicarinya ialah hakikat pengetahuan dan kakikat nilai).

3.    Dimensi ksiologis, bahwa dalam dimensi ini seandainya ditanyakan kepada Socrates atauNietzsche tentang apa guna filsafat, agaknya mereka akan menjawab bahwa filsafat dapat menjadikan manusia menjadi manusia. Artinya, dengan filsafat orang akan bisa menjadi orang bijaksana. Namun bila melihat rumusan ini nampaknya terlalu umum, sehingga sulit dipahami. Untuk memahami kegunaan filsafat di tingkat teknis operasionalnya, dapat dimulai dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori, kedua filsafat sebagai pandangan hidup (philosophy of life), dan ketiga filsafat sebagai metode pemecahan masalah (Ahmad Tafsir, 2009: 42).

Filsfat sebagai kumpulan teori filsafat, digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Sedangkan filsafat sebagai philosophy of life (pandangan hidup) ini sangat penting untuk dipelajari, sebab dalam hal ini fungsinya mirip dengan agama (Ahmad Tafsir, 2009: 42). Dalam posisi ini filsafat dapat menjadi jalan kehidupan. Jika dalam agama X dikatakan bahwa agama X  itu adalah jalan kehidupan, maka filsafat sebagai filsafat hidup demikian juga halnya. Ia menjadi pedoman. Isinya berupa ajaran dan ajaran itu dilaksanakan dalam kehidupan. Perbedaannya agama dengan filsafat adalah bila filsafat dipandang sebagai teori, maka teori itu ada yang dipakai dan ada yang tidak dipakai, ada yang diakui kebenarannya dan ada yang tidak diakui. Intinya bahwa filsafat sebagaiphilosophy of life gunanya untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan, lebih singkat lagi: untuk dijadikan agama  (Ahmad Tafsir, 2009: 43). Dan selanjutnya, bahwa filsafat sebagai metodologydalam memecahkan masalah, ada berbagai cara yang ditempuh orang bila hendak menyelesaikan sesuatu masalah. Seperti memecahkan masalah dengan  cara sains, sehingga hal ini pusat perhatiannya pada fakta empiric, namun ada juga yang menyelesaikan masalah dengan cara filsafat, dan lain sebagainya.

Berdasarkan uraian singkat di atas, dapatlah dikatakan bahwa dimensi aksiologis dari filsafat adalah berupa kegunaan filsafat dan itu luas sekali. Di mana pun dan pada apa pun filsafat diterapkan di situ filsafat memiliki kegunaan. Bila digunakan dalam pedidikan, maka akan dapat dilihat bahwa filsafat berguna bagi pendidikan, bila digunakan dalam bahasa, ia berguna bagi bahasa, dan bila digunakan dalam agama, maka filsafat juga dapat dilihat bahwa filsafat berguna bagi agama, dan seterusnya. Inilah pemehaman filsafat dalam dimensi aksiologis.

C.      Pengertian Filsafat Ilmu pengetahuan.

Untuk memahami pengertian tentang filsafat ilmu pengetahuan, akan dibahas terlebih dahulu pengertian filsafat dalam arti terminologinya. Pengertian filsafat sesuai dengan terminologinya yaitu:

1.    Filsafat adalah upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.

2.    Filsafat adalah upaya melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.

3.     Filsafat adalah untuk menentukan batas batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya, hakekatnya, keabsahannya, dan nilainya.

4.    dFilsafat adalah penyelidikan kritis atas pengandaian pengandaian dan pernyataan pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.

5.     Filsafat adalah berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan dan untuk mengatakan apa yang Anda lihat.

Jadi, pengertian filsafat secara terminologinya di atas sangat beragam baik dalam ungkapan maupun titik tekanannya. Bahkan Mohammad Hatta seorang ahli filafat Indenesia, dan Langeveld mengatakan bahwa definisi filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang memiliki titik tekan sendiri dalam definisinya. Hal ini bisa dimengerti, karena intisari berfilsafat itu terdapat dalam pembahasan bukan pada definisi. Namun definisi filsafat untuk dijadikan patokan awal diperlukan, karena untuk memberi arah dan cakupan objek yang dibahas, terutama terkait dengan filsafat ilmu 

Berikut akan dibahas tentang pengertian ilmu pengetahuan. Secara etimologis bahwa ilmu dalam bahasa Inggris adalah science, yaitu berasal dari bahasa Latin: scientia artinya pengetahuan, dan scire artinya mengetahuai, dan sinonim yang paling dekat dengan bahasa Yunani adalah episteme. Sedangkan ilmu yang berasal dari bahasa Arab adalah: ‘alima, ya’lamu, dan ‘ilman, kesemua itu artinya mengerti dan memahami benar benar.

Dari beberapa istilah di atas, lalu pengertian ilmu dalam kamus bahasa Indonesia adalah penegtahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem, menurut metode metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala gejala tertentu di bidang itu.

D.      Ciri ciri utama ilmu pengetahuan sesuai dengen terminologinya antara lain:

1.    Ilmu pengetahuan adalah sebagian pengetahuan bersifat koheren, epiris, sistematis, dapat diukur, dan dibuktikan. Hal ini beda dengan iman, yaitu pengetahuan didasarkan atas keyakinan kepada yang gaib dan pengahayatan serta pengalaman pribadi.

2.    Ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan, sebab ilmu pengetahuan tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu putusan tersendiri, melainkan ilmu pengetahuanmenandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek (alam objek) yang sama dan saling berkaitan secara logis. Oleh sebab itu, koherensi sistematik adalah hakikat ilmu pengetahuan.

3.    Ilmu pengetahuan  tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing masing penalaran perorangan, sebab ilmu pengetahuan dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.

4.    Berkaitan dengan konsep ilmu pengetahuan (pengetahuan ilmiah) adalah ide bahwa metode metode yang berhasil dan hasil hasil yang terbukti pada dasarnya harus terbuka kepada semua pencari ilmu.

5.    Ciri hakiki dari ilmu ialah metodologi, sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dan ide yang terpisah.

E.       Persamaan dan Perbedaan antara Filsafat dan Ilmu Pengetahuan

Adapun Persamaan antara Filsafat dan Ilmu Pengetahuan adalah:

1.    Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya, menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai ke akar-akarnya.

2.    Kedua-duanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang dialami, serta menunjukkan sebab-sebabnya.

3.    Keduanya hendak memberikan sintesis, yakni suatu pandangan yang begandengan.

4.    Keduanya mempunyai metode dan system.

5.    Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya yang timbul dari hasrat manusia (objektivitas), akan pengetahuan yang lebih mendasar.



Sedangkan Perbedaannya antara Filsafat dan Ilmu Pengetahuan adalah:

1.    Objek material (lapangan) penyelidikan filsafat bersifat umum (universal), yakni segala sesuatu yang ada, sedangkan objek material ilmu pengetahuan adalah bersifat khusus dan empiris.

2.    Objek formal filsafat bersifat non fragmentaris, sebab mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada secara luar, mendalam, dan mendasar (sampai pada hakekat). Sedang ilmu pengetahuan objek formalnya bersifat pragmentaris, spesifik, dan intensif, juga bersifat teknis, artinya bahwa idea idea manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita.

3.     Filsafat dilaksanakan dalam suasana menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan pengawasan. Sedangkan ilmu harus diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh sebab itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainya.

4.    Filsafat dengan pertanyaan yang lebih jauh dan mendalam berdasar pengalaman realitas sehari-hari. Sedangkan ilmu pengetahuan bersifat diskursif, yakni menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.

5.    Filsafat memberikan penjelasan yang terakhir, yang mutlak, dan mendalam sampai dasar yakni yang disebut hakekat. Sedangkan ilmu pengetahuan menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam atau yang disebut yang sekundar (secondary cause).

F.       Tujuan Filsafat Ilmu Pengetahuan

Filsafat ilmu pengetahuan tujuannya, yakni:

1.    mendalami unsure-unsur pokok ilmu pengetahuan, sehingga secara menyeluruh dapat dipahami sumber-sumber, hakikat, dan tujuan ilmu pengetahuan.

2.    Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehingga didapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.

3.    Menjadi pedoman bagi para pendidik dan anak didik dalam mendalami studi di perguruan tinggi, khususnya untuk membedakan persoalan ilmiah dan non ilmiah.

4.    Mendorng para calon ilmuwan untuk konsentrasi dalam mendalami ilmu pengetahuan dan mengembangkannya.

5.    Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu pengetahuan dan agama tidak ada pertentangan (Amsal Bakhtiar, 2004: 20).


Daftar Pustaka :

1.      Amsal Bakhtiar, 2004, Filsafat Ilmu, Jakarta, PT. Grafindo Persada


2.      Bebbington, David, 1979, Patterns in history, , England, Inter-Varsity Press


3.      Caputo, John D. 1987, Radical Hermeneutics, Bloomington and Indianapolis, Indiana University Press


4.      Harun Hadiwijono, 1988, Sari Sejarah Fil safat Yunani,Yogyakarta, Penerbit Kanisius


5.      Robert N. Beck, 1967, Perspectives in Social Philosophy, New York, Holt, Rinehart and

ARTIKEL METODE PENELITIAN



ARTIKEL METODE PENELITIAN

A.          Pengertian Metode Penelitian
Pengertian metode, berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos yang berarti cara atau menuju suatu jalan. Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya (Rosdy Ruslan,2003:24).
Sedangkan pengertian penelitian, diantaranya :
Penelitian adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, yang dilakukan dengan metode-metode ilmiah. John Dewey di dalam bukunya How We Think (1910) mengatakan bahwa metode ilmiah ialah langkah-langkah pemecahan suatu masalah yaitu sebagai berikut:
1.   Merasakan adanya suatu masalah atau kesulitan, dan masalah atau kesulitan ini mendorong perlunya pemecahan.
2.   Merumuskan dan atau membatasi masalah/kesulitan tersebut. Di dalam hal ini diperlukan observasi untuk mengumpulkan fakta yang berhubungan dengan masalah itu.
3.  Mencoba mengajukan pemecahan masalah/ kesulitan tersebut dalam bentuk hipotesis-hipotesis. Hipotesis-hipotesis ini adalah merupakan pernyataan yang didasarkan pada suatu pemikiran atau generalisasi untuk menjelaskan fakta tentang penyebab masalah tersebut.
4.      Merumuskan alasan-alasan dan akibat dari hipotesis yang dirumuskan secara deduktif.
5. Menguji hipotesis-hipotesis yang diajukan, dengan berdasarkan fakta-fakta yang dikumpulkan melalui penyelidikan atau penelitian. Hasil penelitian ini bisa menguatkan hipotesis dalam arti hipotesis diterima, dan dapat pula memperlemah hipotesis, dalam arti hipotesis ditolak. Dari langkah terakhir ini selanjutnya dapat dirumuskan pemecahan masalah yang telah dirumuskan tersebut.
Adapun Noto Atmojo mengungkapkan bahwa metode ilmiah memiliki kriteria, antara lain :
a.      Berdasarkan fakta 
b.      Menggunakan hipotesis
c.      Bebas dari prasangka 
d.      Menggunakan ukuran objektif
e.      Menggunakan prinsip analisis
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Metode penelitian adalah cara untuk memecahkan masalah ataupun sebagai cara pengembangan ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah yang sistematis dan logis.
B.           Jenis-jenis penelitian
Jenis jenis metode penelitian terkait dengan jenis penelitiannya sendiri sebagai berikut.:
1.      Penelitian menurut tujuan :
a. Penelitian murni merupakan penelitian yang dilakukan atau diarahkan sekedar untuk memahami masalah organisasi secara mendalam dan hasil penelitian tersebut untuk pengembangan ilmu administrsi atau manajemen.
b. Penelitian terapan mereupakan penelitian yang diarahkan untuk mendapakan informasi  yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah.
2.      Penelitian menurut metode :
a.  Penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetap data yang dipelajari adalah data dari sample yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variable. Contoh: penelitian untuk mengungkapkan kecenderungan masyarakat dalam memilih pemimpin nasional dan daerah, kualitas SDM masyarakat Indonesia.
b.  Penelitian Ex post facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliyi peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut kebelakang untuk mengetahui factor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian tersebut. Contoh: penelitian untuk mengungkapakn sebab-sebab terjadinya kebakaran gedung di suatu lembaga pemerintah, penelitian untuk mengungkapakan sebab-sebab terjadinya kerusuhan di suatu daerah.
c.  Penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variable tertentu terhadap variable yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Tredapat empat bentuk metode eksperimen yaitu pre experimental, true experimental, factorial, dan quai experimental. Contoh: penelitian penerapan metode kerja baru terhadap produktifitas kerja, penelitian pengaruh mobil berpenumpang tiga terhadap kemacetan lalu lintas.
d.   Penelitian naturalistic sering juga disebut metode kualitatif yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alamiah. Contoh: penelitian untuk mengungkapakn makna upacara ritual dari kelompok masyarakat tertentu, penelitian untuk menemukan factor-faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi.
e.  Policy research (penelitian kebijaksanaan) adalah suatu proses penelitian yang dilakukaan pada, atau analisis terhadap masalah-masalah social yang mendasar, sehingga temuannya dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertindak dalam menyelesaikan masalah. Contoh: penelitian untuk membuat undang-undang atau peraturan tertentu, penelitian untuk pengembangan struktur organisasi.
f.  Action research aadalah penelitian yang bertujuan untu mengembangkan metode kerja yang paling efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas lembaga dapat meningkat. Contoh: penelitian untuk memperbaiki prosedur dan metode kerja dalam pelayanan masyarakat, penelitian mencari metode mengajar yang baik.
g. Penelitian evaluasi adalah penelitian yang berfungsi untuk menjelaska fenomena suatu kejadian, kegiatan dan product. Contoh: penelitian proses pelaksanaan suatu peraturan atau kebijakan, penelitian keluarga berencana.
h.  Penelitian sejarah adalah penelitian yang berkenaan dengan analisis yang logis terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di masa lalu.
3.      Penelitian menurut tingkat explanasinya :
a. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variable mandiri, baik satu variable atau lebih (independent) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antara varibel yang satu dengan yang lain. Contoh: penelitian yang berusaha menjawab bagaimanakah profil presiden Indonesia, bagaimanakah etos kerja dan prestasi kerja para karyawan di departemen x.
b. Penelitian komparatif adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan.  Contoh: adakah perbedaan profil presiden Indonesia dari waktu ke waktu, adakah perbedaan kemampuan kerja antara lulusan SMK dengan SMU.
c. Penelitian asosiatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubunganduavariableataulebih. Contoh: adakah hubungan antara datangnya kupu-kupu dengan tamu, adakah pengaruh insentif terhadap prestasi kerja pegawai.

Contoh metode penelitian :
Apabila dalam sebuah penelitian, yang dibicarakan adalah pelaksanaan percobaan di lapangan, di mana dalam penentuan plot, pertama-tama dilakukan pembagian daerah menjadi beberapa blok, kemudian setiap blok dibagi lagi dan seterusnya, maka yang dibicarakan adalah prosedur penelitian. Jika, yang dibicarakan adalah penggunaan interview atau wawancara sebagai alat pengumpulan data, maka yang dibicarakan adalah teknik penelitian. Jika yang dibicarakan adalah bagaimana penelitian dilakukan, yaitu dengan prosedur dan alat bagaimana suatu penelitian dilakukan, maka yang dibicarakan adalah metode penelitian.
C.         Macam - macam Metode Penelitian
Banyak metode penelitian yang biasa digunakan dalam penelitian social dan pendidikan. Mc. Milan membagi macam-macam metode penelitian berdasarkan pendekatan yang digunakan, antara lain :
1.      Pendekatan Kualitatif
a. Metode etnografis ialah metode yang digunakan untuk menginterpretasi budaya, kelompok social dan suatu system masyarakat. Penelitian etnografi bertujuan untuk mendeskripsikan cara berpikir, adat, bahasa, kepercayaan dan prilaku hidup suatu masyarakat. Proses penelitian ini biasanya dilaksanakan di lapangan dalam waktu yang cukup lama, dengan bentuk observasi dan wawancara alamiah dengan partisipan serta mengumpulkan dokumen atau benda-benda (artifak). Hasil akhir penelitian ini biasanya sangat komprehensif dan menggambarkan kompleksitas suatu kehidupan. Contoh penelitian dalam pendidikan : ” Pelaksanaan kurikulum Berbasis Kompetensi”.
b. Historis / Sejarah ialah studi tentang masa lalu dengan menggunakan paparan dan penjelasan. Metode Historis ialah metode yang bertujuan untuk merekonstruksi masa lalu secara sistematis dan obyektif dengan mengumpulkan , menilai, memverifikasi, dan mensintesis bukti untuk menetapkan fakta dan mencapai konklusi yang dapat dipertahankan dan dalam hubungan hipotesis tertentu.
Ciri khas penelitian historis ialah periode waktu : kegiatan, peristiwa, karakteristik, dan nilai-nilai dikaji dalam konteks waktu. Contoh penelitian ini misalnya : ” Manajemen Pembuatan Kurikulum Berbasis Kompetensi “
c.  Metode Fenomenologis ialah metode yang digunakan dalam penelitian yang mencari arti dari pengalaman kehidupan. Peneliti menghimpun data berkenaan dengan konsep, pendapat, pendirian, sikap, penilaian, dan pemberian makna terhadap situasi atau pengalaman dalam kehidupan. Tujuan penelitian ini ialah menemukan makna dari hal-hal yang esensi atau mendasar dari suatu pengalaman.Penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam dari partisipan.Hasil studi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pembaca tentang penghayatan kehidupan oranglain.
d. Metode Studi Kasus ialah metode yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan terhadap suatu “kesatuan system”, baik itu berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat ataupun waktu. Penelitian ini diarahkan untuk menghimpun data, mengambil makna,dan memperoleh pemahaman dari kasus tersebut. Suatu kasus tidak dapat mewakili populasi dan tidak dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan dari populasi.Keismpulan sudi kasus hanya berlaku bagi kasus yang diteliti. Karena tiap kasus bersifat unik dan memiliki karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Studi kasus memiliki beberapa kelemahan,antara lain :
·      Sulit dibuat inferensi kepada populasi
·      Mudah dipengaruhi pandangan subjektif
Adapun keunggulan studi kasus ini ialah:
·      Dapat memberi hipotesis untuk penelitian lanjutan
·      Mendukung studi-studi besar dikemudian hari
·      Dapat digunakan sebagai contoh ilustrasi
e. Metode Teori Dasar ialah merode yang digunakan dalam penelitian dasar yang diarahkan pada penemuan atau penguatan suatu teori. Penelitian teori dasar harus melalui beberapa langkah penelitian, antara lain:
1)   Peneliti memiliki gambaran sifat-sifat realitas empiris
2)   Permulaan penelitian dimulai dengan pernyataan dasar mengenai dunia empiris yang dimasuki lapangan
3)   Peneliti harus menetapkan data apa yang akan diambil
4)   Peneliti harus melakukan ekplorasi
5)   Peneliti harus mampu melakukan inspeksi
6) Peneliti harus mampu menganalisa dan melakukan rekonstrsuksi penemuan untuk bangunan hipotesis barunya.
f. Metode Studi kritis ialah metode yang digunakan dalam penelitian yang berkembang dari teori kritis, feminis, ras dan pascamodern yang bertolak dari asumsi bahwa pengetahuan bebrsifat subjective. Peneliti kritis memandang bahwa masyarakat terbentuk oleh orientasi kelas, status, ras ,suku bangsa,jenis kelamin, dll. Peneliti feminis memusatkan perhatiannya pada masalah jender, ras, sedangkan peneliti pascamodern memusatkan pada institusi social dan kemasyarakatan. Dalam penelitian kritis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antaralain :
1)   Peneltian kritis tidak bersifat deskrit.
2)   Penelitian kritis menggunakan pendekatan studi kasus
2.      Pendekatan Kuantitatif
a.  Metode deskriptif ialah suatu metode penelitian yang digunakan dalam Penelitian deskriptif untuk menggambarkan fenomena yanga ada. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang memberi uraian mengenai gejala social yang diteliti dengan mendeskripsikan tentang nilai variable bedasarkan indicator yang diteliti tanpa membuat hubungan dan perbandingan dengan sejumlah variable yang lain. Tujuan metode deskriptif ini ialah:
a)      Mengumpulkan informasi actual secara rinci yang melukiskan gejala.
b)      Mengidentifikasi masalah dan memeriksa praktik yang berlaku.
c)      Menetapkan keputusan apabila oranglain menghadapi situasi yang sama
Syarat penelitian deskriptif:
a)      Peneliti harus memiliki sifat represif. Ia harus mencari,bukan menguji.
b)      Peneliti harus memiliki kekuatan integrative.
c)      Peneliti tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan variable
b.    Metode Komparatif ialah metode yang digunakan dalam penelitian yang diarahkan untuk mengetahui apakah antara dua variable ada perbedaan dalam suatu aspek yang diteliti. Dalam penelitian ini tidak ada manipulasi dari peneliti. Penelitian dilakukan secara alami, dengan mengumpulkan data dengan suatu instrument. Hasilnya dianalisis secara statistic untuk mencari perbedaan variable yang diteliti.
c.  Metode Korelasional ialah metode yang mencari hubungan atau korelasi diantara variable-variabel yang dicari.. Korelasi antara dua variable atau lebih dapat berupa, sebaaai berikut
a)  Korelasi Positif, yaitu korelasi dimana jika salah satu variable meningkat, maka variable lain cenderung meningkat pula, atau sebaliknya bila salah satu variable turun, maka variable yang lain cenderung turun.
b)  Korelasi Negatif, yaitu korelasi dimana jika salah satu variable meningkat, maka variable yang lain akan cenderung menurun, begitu pula sebaliknya.
c)   Tidak ada Korelasi, yaitu kedua variable tidak menunjukkan adanya hubungn antara keduanya.
d)   Korelasi sempurna, yaitu korelasi dimana kenaikan dan penurunan variable yang satu berbanding seimbang dengan yang lain.
Tujuan metode korelasional ini ialah untuk meneliti sejauh mana variable pada satu factor berkaitan dengan factor lainnya. Metode ini digunakan untuk:
a)      Mengukur hubungan antar variable
b)      Meramalkan variable tak bebas dari pengetahuan kita tentang variable bebas
c)      Meratakan jalan untuk membuat rancangan penelitian eksperimental
d.   Metode Survey ialah metode yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan dalam pengamatan langsung terhadap suatu gejala dalam populasi besar atau kecil. Proses penelitian survey merupakan suatu fenomena social dalam bidang pendidikan yang menarik perhatian peneliti. Penelitian survey menggambarkan proses transformasi komponen informasi ilmiah, yakni 
e.  Metode Ekpos Fakto ialah metode yang digunakan dalama penelitian yang meneliti hubungan sebab akibat yang tidak dimanipulasi oleh peneliti. Adanya hubungan sebab akibat didasarkan atas kajian teoritis, bahwa suatu variable tertentu mengakibatkan variable tertentu. Umpamanya : peningkatan pengetahuan tentang gizi pada ibu hamil menyebabkan kesehatan bayi meningkat. Penelitian ekpos fakto ini dapat dilakukan dengan baik bila dengan menggunakan kelompok pembanding.
f.   Metode Tindakan ialah metode yang digunakan dalam penelitian yang diarahkan pada pemecahan masalah atau perbaikan. Penelitian ini difokuskan kepada perbaikan proses maupun peningkatan hasil kegiatan. Contohnya guru mengadakan pemecahan masalah terhadap masalah-masalah yang ada dalam kelas.
DAFTAR PUSTAKA :
1.        Hasan, Iqbal, ”Metodologi Penelitian dan Aplikasinya “, Jakarta : GI, 2002
2.        Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial, Jakarta : GP, 2010.
3.        Nazir, Muhammad, ” Metode Penelitian “, Jakarta : Ghalia Indonesia, 2003


Contoh Proposal Usaha

TUGAS INDIVIDU PROPOSAL USAHA TAHU BULAT ISI Disusun Oleh : Nama                                  : Muhammad Budiyanto...