FALSAFAT ILMU PENGETAHUAN
A. Pendahuluan
Perkataan
filsafat berasal dari bahasa Arab “falsafah”, yang
berasal dari bahasa Yunani,“philosophia”,yangberarti “philos” (cinta),suka
dan “sophia” (pengetahuan), hikmah (wisdom).
Jadi “philosophia” berarti cinta kepada kebijaksanaan
atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan
menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “philosopher”, dalam
bahasa Arabnya “failasuf". Pecinta pengetahuan
ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan
lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.
Pertama-tama
perlu dipahami antara istilah: “pengetahuan”, “ilmu pengetahuan”, dan
“filsafat”.
Untuk memahami dapat dilihat beberapa penjelasan
seperti dijelaskan pada hal-hal di bawah ini.
Definisi
tentang ilmu pengetahuan adalah:
1.
Ralph Ross mengatakan bahwa: Science
is empirical, rational, general, and cumulative; and it is all four at one
(ilmu ialah yang empiris, yang rasional, yang umum dan bertimbun bersusun; dan
keempat-empatnya serentak).
2.
Karl Pearson pengarang karya: Grammar of Science, merumuskan sbb: Science
is the complete and consistent description of the facts of experience in the
simplest possible terms (Ilmu pemgetahuan ialah lukisan atau keterangan
yang lengkap dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang
sesederhana/ sesedikit mungkin).
Jadi,
dengan bertolak dari definisi di atas penulis
menyimpulkan, bahwa ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang disusun
dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian bagian dan
hukum hukum tentang hal yang diselidiki (alam, agama, dan manusia) sejauh yang
dapat dijangkau daya pikir yang dibantu indra manusia, yang kebenarannya diuji
secara empiris, riset, dan eksperimental.
B. Pengertian Filsafat
Terkait dengan pengertian filsafat,
perlu ditegaskan di sini bahwa dalam garis besarnya filsafat minimal mempunyai
tiga dimensi besar, yakni:
1.
dimensi epistemologis
2.
dimensi ontologis
3.
dimensi aksiologis
Inilah keseluruhan filsafat dalam
garis besar yang ringkas. Untuk itu agar lebih jelas tentang kapling-kapling
filsafat dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Dimensi epistemologis, yakni dimensi yang membicarakan
bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Runes (1971: 94) dalam kamusnya
menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which
investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge.
Itulah sebabnya sehingga sering disebut dengan istilah filsafat pengetahuan,
karena ia membicarakan hal pengetahuan. Untuk hal ini ada beberapa aliran yang
membicarakan, seperti:
a)
Aliran empirisme, yakni kata yang berasal dari kata
Yunani empeirikos yang asal katanya adalah empeiria,
artinya pengalaman. Oleh sebab itu, menurut aliran ini bahwa manusia memperoleh
pengetahuan melalui pengalamannya. John Locke (1632-1704), bapak aliran ini
pada zaman Modern mengemukakan teori tabula rasa yang
dalam bahasa Indonesia adalah meja lilin. Maksudnya adalah bahwa manusia pada
mulanya kosong dari pengetahuan, kemudian pengalamannya mengisi jiwa yang
kosong itu, sehingga manusia memiliki pengetahuan.
b)
Aliran Rasionalisme, yakni aliran yang menyatakan bahwa “akal
adalah dasar kepastian pengetahuan”. Pengetahuan yang benar diperoleh
dan diukur dengan akal. Menurut aliran ini, bahwa manusia memperoleh
pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini di zaman
Modern adalah Rene Descartes (1596-1650), ini benar. Akan tetapi sesungguhnya
paham semacam ini sudah ada jauh sebelum itu, yakni orang orang Yunani Kuno
telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang
benar, lebih-lebih pada Aristoteles yang teleh disebutkan di depan. Di samping
kedua aliran ini masih banyak aliran filsafat yang belum disebutkan di sini.
2. Dimensi
ontologis,
hal ini setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filsuf mulai menghadapi
objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara
mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini
dinamakan teori hakikat, yang biasa disebut dengan istilah ontologi (Ahmad
Tafsir, 2009: 28). Bidang bahasan dalam dimensi ontologis ini sangat luas,
yakni segala yang ada, dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup
pengetahuan dan nilai (yang dicarinya ialah hakikat pengetahuan dan kakikat
nilai).
3. Dimensi ksiologis, bahwa dalam dimensi ini seandainya ditanyakan kepada Socrates atauNietzsche tentang
apa guna filsafat, agaknya mereka akan menjawab bahwa filsafat dapat menjadikan
manusia menjadi manusia. Artinya, dengan filsafat orang akan bisa menjadi orang
bijaksana. Namun bila melihat rumusan ini nampaknya terlalu umum, sehingga
sulit dipahami. Untuk memahami kegunaan filsafat di tingkat teknis
operasionalnya, dapat dimulai dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat
sebagai kumpulan teori, kedua filsafat sebagai
pandangan hidup (philosophy of life), dan ketiga filsafat
sebagai metode pemecahan masalah (Ahmad Tafsir, 2009: 42).
Filsfat sebagai kumpulan teori
filsafat, digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Sedangkan
filsafat sebagai philosophy of life (pandangan hidup)
ini sangat penting untuk dipelajari, sebab dalam hal ini fungsinya mirip dengan
agama (Ahmad Tafsir, 2009: 42). Dalam posisi ini filsafat dapat menjadi jalan
kehidupan. Jika dalam agama X dikatakan bahwa agama X itu adalah
jalan kehidupan, maka filsafat sebagai filsafat hidup demikian juga halnya. Ia
menjadi pedoman. Isinya berupa ajaran dan ajaran itu dilaksanakan dalam
kehidupan. Perbedaannya agama dengan filsafat adalah bila filsafat dipandang
sebagai teori, maka teori itu ada yang dipakai dan ada yang tidak dipakai, ada
yang diakui kebenarannya dan ada yang tidak diakui. Intinya bahwa filsafat
sebagaiphilosophy of life gunanya untuk petunjuk dalam
menjalani kehidupan, lebih singkat lagi: untuk dijadikan
agama (Ahmad Tafsir, 2009: 43). Dan selanjutnya, bahwa filsafat
sebagai metodologydalam memecahkan masalah, ada berbagai
cara yang ditempuh orang bila hendak menyelesaikan sesuatu masalah. Seperti
memecahkan masalah dengan cara sains, sehingga hal ini pusat
perhatiannya pada fakta empiric, namun ada juga yang
menyelesaikan masalah dengan cara filsafat, dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian singkat di atas,
dapatlah dikatakan bahwa dimensi aksiologis dari filsafat adalah berupa
kegunaan filsafat dan itu luas sekali. Di mana pun dan pada apa pun filsafat
diterapkan di situ filsafat memiliki kegunaan. Bila digunakan dalam pedidikan,
maka akan dapat dilihat bahwa filsafat berguna bagi pendidikan, bila digunakan
dalam bahasa, ia berguna bagi bahasa, dan bila digunakan dalam agama, maka
filsafat juga dapat dilihat bahwa filsafat berguna bagi agama, dan seterusnya.
Inilah pemehaman filsafat dalam dimensi aksiologis.
C. Pengertian
Filsafat Ilmu pengetahuan.
Untuk memahami
pengertian tentang filsafat ilmu pengetahuan, akan dibahas terlebih dahulu pengertian filsafat dalam
arti terminologinya.
Pengertian filsafat sesuai dengan terminologinya yaitu:
1. Filsafat adalah
upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap
tentang seluruh realitas.
2. Filsafat adalah
upaya melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.
3. Filsafat
adalah untuk menentukan batas batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya,
hakekatnya, keabsahannya, dan nilainya.
4. dFilsafat
adalah penyelidikan kritis atas pengandaian pengandaian dan pernyataan
pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
5. Filsafat
adalah berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan dan untuk
mengatakan apa yang Anda lihat.
Jadi,
pengertian filsafat secara terminologinya di atas sangat beragam baik dalam
ungkapan maupun titik tekanannya. Bahkan Mohammad Hatta seorang ahli filafat
Indenesia, dan Langeveld mengatakan bahwa definisi filsafat tidak perlu
diberikan karena setiap orang memiliki titik tekan sendiri dalam definisinya.
Hal ini bisa dimengerti, karena intisari berfilsafat itu terdapat dalam
pembahasan bukan pada definisi. Namun definisi filsafat untuk dijadikan patokan
awal diperlukan, karena untuk memberi arah dan cakupan objek yang dibahas,
terutama terkait dengan filsafat ilmu
Berikut akan dibahas tentang
pengertian ilmu pengetahuan. Secara etimologis bahwa ilmu dalam
bahasa Inggris adalah science, yaitu berasal dari bahasa
Latin: scientia artinya pengetahuan, dan scire artinya
mengetahuai, dan sinonim yang paling dekat dengan bahasa Yunani adalah episteme.
Sedangkan ilmu yang berasal dari bahasa Arab adalah: ‘alima,
ya’lamu, dan ‘ilman, kesemua itu artinya mengerti dan memahami benar benar.
Dari beberapa istilah di atas, lalu
pengertian ilmu dalam kamus bahasa Indonesia adalah penegtahuan tentang suatu
bidang yang disusun secara bersistem, menurut metode metode tertentu, yang
dapat digunakan untuk menerangkan gejala gejala tertentu di bidang itu.
D. Ciri ciri utama
ilmu pengetahuan sesuai dengen
terminologinya antara lain:
1. Ilmu pengetahuan adalah
sebagian pengetahuan bersifat koheren, epiris, sistematis, dapat diukur, dan
dibuktikan. Hal ini beda dengan iman, yaitu pengetahuan didasarkan atas
keyakinan kepada yang gaib dan pengahayatan serta pengalaman pribadi.
2. Ilmu pengetahuan berbeda
dengan pengetahuan, sebab ilmu pengetahuan tidak pernah mengartikan kepingan
pengetahuan satu putusan tersendiri, melainkan ilmu pengetahuanmenandakan
seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek (alam objek) yang sama dan saling berkaitan
secara logis. Oleh sebab itu, koherensi sistematik adalah hakikat ilmu pengetahuan.
3. Ilmu pengetahuan tidak
memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing masing penalaran
perorangan, sebab ilmu pengetahuan dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri
hipotesis-hipotesis dan teori teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.
4. Berkaitan
dengan konsep ilmu pengetahuan (pengetahuan
ilmiah) adalah ide bahwa metode metode yang berhasil dan hasil hasil yang
terbukti pada dasarnya harus terbuka kepada semua pencari ilmu.
5. Ciri hakiki
dari ilmu ialah metodologi, sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai
dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dan
ide yang terpisah.
E. Persamaan dan Perbedaan antara
Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Adapun Persamaan antara Filsafat dan
Ilmu Pengetahuan adalah:
1. Keduanya mencari rumusan yang
sebaik-baiknya, menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai ke akar-akarnya.
2. Kedua-duanya memberikan pengertian
mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang dialami,
serta menunjukkan sebab-sebabnya.
3. Keduanya hendak memberikan sintesis,
yakni suatu pandangan yang begandengan.
4. Keduanya mempunyai metode dan
system.
5. Keduanya hendak memberikan
penjelasan tentang kenyataan seluruhnya yang timbul dari hasrat manusia
(objektivitas), akan pengetahuan yang lebih mendasar.
Sedangkan Perbedaannya antara
Filsafat dan Ilmu Pengetahuan adalah:
1. Objek material (lapangan)
penyelidikan filsafat bersifat umum (universal), yakni segala sesuatu yang ada,
sedangkan objek material ilmu pengetahuan adalah bersifat khusus dan empiris.
2. Objek formal filsafat bersifat non
fragmentaris, sebab mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada secara
luar, mendalam, dan mendasar (sampai pada hakekat). Sedang ilmu pengetahuan
objek formalnya bersifat pragmentaris, spesifik, dan intensif, juga bersifat
teknis, artinya bahwa idea idea manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan
realita.
3. Filsafat dilaksanakan dalam suasana
menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan pengawasan. Sedangkan ilmu harus
diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh sebab
itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat
timbul dari nilainya.
4. Filsafat dengan pertanyaan yang
lebih jauh dan mendalam berdasar pengalaman realitas sehari-hari. Sedangkan
ilmu pengetahuan bersifat diskursif, yakni menguraikan secara logis, yang
dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.
5. Filsafat memberikan penjelasan yang
terakhir, yang mutlak, dan mendalam sampai dasar yakni yang disebut hakekat.
Sedangkan ilmu pengetahuan menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam
atau yang disebut yang sekundar (secondary cause).
F. Tujuan Filsafat Ilmu Pengetahuan
Filsafat ilmu pengetahuan tujuannya,
yakni:
1.
mendalami unsure-unsur pokok ilmu pengetahuan, sehingga
secara menyeluruh dapat dipahami sumber-sumber, hakikat, dan tujuan ilmu
pengetahuan.
2.
Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan
ilmu di berbagai bidang, sehingga didapat gambaran tentang proses ilmu
kontemporer secara historis.
3.
Menjadi pedoman bagi para pendidik dan anak didik dalam
mendalami studi di perguruan tinggi, khususnya untuk membedakan persoalan
ilmiah dan non ilmiah.
4.
Mendorng para calon ilmuwan untuk konsentrasi dalam
mendalami ilmu pengetahuan dan mengembangkannya.
5.
Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara
ilmu pengetahuan dan agama tidak ada pertentangan (Amsal Bakhtiar, 2004: 20).
Daftar
Pustaka :
1.
Amsal Bakhtiar, 2004, Filsafat Ilmu, Jakarta,
PT. Grafindo Persada
2.
Bebbington, David, 1979, Patterns in history, ,
England, Inter-Varsity Press
3.
Caputo, John D. 1987, Radical Hermeneutics,
Bloomington and Indianapolis, Indiana University Press
4.
Harun Hadiwijono, 1988, Sari Sejarah Fil safat
Yunani,Yogyakarta, Penerbit Kanisius
5.
Robert N. Beck, 1967, Perspectives in Social
Philosophy, New York, Holt, Rinehart and
Tidak ada komentar:
Posting Komentar