Senin, 10 Oktober 2016

Filsafat Ilmu Pengetahuan


FALSAFAT ILMU PENGETAHUAN
                                                              

A.      Pendahuluan

Perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab falsafah”, yang berasal dari bahasa Yunani,“philosophia”,yangberarti “philos” (cinta),suka dan “sophia” (pengetahuan),  hikmah (wisdom). Jadi “philosophia” berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “philosopher”, dalam bahasa Arabnya “failasuf". Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.

Pertama-tama perlu dipahami antara istilah: “pengetahuan”, “ilmu pengetahuan”, dan “filsafat”.

Untuk memahami dapat dilihat beberapa penjelasan seperti dijelaskan pada hal-hal di bawah ini.

Definisi tentang ilmu pengetahuan adalah:

1.    Ralph Ross mengatakan bahwa: Science is empirical, rational, general, and cumulative; and it is all four at one (ilmu ialah yang empiris, yang rasional, yang umum dan bertimbun bersusun; dan keempat-empatnya serentak).

2.    Karl Pearson pengarang karya: Grammar of Science, merumuskan sbb: Science is the complete and consistent description of the facts of experience in the simplest possible terms (Ilmu pemgetahuan ialah lukisan atau keterangan yang lengkap dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana/ sesedikit mungkin).

Jadi, dengan bertolak dari definisi di atas penulis menyimpulkan, bahwa ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian bagian dan hukum hukum tentang hal yang diselidiki (alam, agama, dan manusia) sejauh yang dapat dijangkau daya pikir yang dibantu indra manusia, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset, dan eksperimental.

B.       Pengertian Filsafat

Terkait dengan pengertian filsafat, perlu ditegaskan di sini bahwa dalam garis besarnya filsafat minimal mempunyai tiga dimensi besar, yakni:

1.    dimensi epistemologis

2.    dimensi ontologis

3.    dimensi aksiologis

Inilah keseluruhan filsafat dalam garis besar yang ringkas. Untuk itu agar lebih jelas tentang kapling-kapling filsafat dimaksud adalah sebagai berikut:

1.    Dimensi epistemologis, yakni dimensi yang membicarakan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Runes (1971: 94) dalam kamusnya menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge. Itulah sebabnya sehingga sering disebut dengan istilah filsafat pengetahuan, karena ia membicarakan hal pengetahuan. Untuk hal ini ada beberapa aliran yang membicarakan, seperti:

a)         Aliran empirisme, yakni kata yang berasal dari kata Yunani empeirikos yang asal katanya adalah empeiria, artinya pengalaman. Oleh sebab itu, menurut aliran ini bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. John Locke (1632-1704), bapak aliran ini pada zaman Modern mengemukakan teori tabula rasa yang dalam bahasa Indonesia adalah meja lilin. Maksudnya adalah bahwa manusia pada mulanya kosong dari pengetahuan, kemudian pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, sehingga manusia memiliki pengetahuan.

b)        Aliran Rasionalisme, yakni aliran yang menyatakan bahwa “akal adalah dasar kepastian pengetahuan”. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Menurut aliran ini, bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini di zaman Modern adalah Rene Descartes (1596-1650), ini benar. Akan tetapi sesungguhnya paham semacam ini sudah ada jauh sebelum itu, yakni orang orang Yunani Kuno telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada Aristoteles yang teleh disebutkan di depan. Di samping kedua aliran ini masih banyak aliran filsafat yang belum disebutkan di sini.

2.    Dimensi ontologis, hal ini setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filsuf mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan  teori hakikat, yang biasa disebut dengan istilah ontologi (Ahmad Tafsir, 2009: 28). Bidang bahasan dalam dimensi ontologis ini sangat luas, yakni segala yang ada, dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai (yang dicarinya ialah hakikat pengetahuan dan kakikat nilai).

3.    Dimensi ksiologis, bahwa dalam dimensi ini seandainya ditanyakan kepada Socrates atauNietzsche tentang apa guna filsafat, agaknya mereka akan menjawab bahwa filsafat dapat menjadikan manusia menjadi manusia. Artinya, dengan filsafat orang akan bisa menjadi orang bijaksana. Namun bila melihat rumusan ini nampaknya terlalu umum, sehingga sulit dipahami. Untuk memahami kegunaan filsafat di tingkat teknis operasionalnya, dapat dimulai dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori, kedua filsafat sebagai pandangan hidup (philosophy of life), dan ketiga filsafat sebagai metode pemecahan masalah (Ahmad Tafsir, 2009: 42).

Filsfat sebagai kumpulan teori filsafat, digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Sedangkan filsafat sebagai philosophy of life (pandangan hidup) ini sangat penting untuk dipelajari, sebab dalam hal ini fungsinya mirip dengan agama (Ahmad Tafsir, 2009: 42). Dalam posisi ini filsafat dapat menjadi jalan kehidupan. Jika dalam agama X dikatakan bahwa agama X  itu adalah jalan kehidupan, maka filsafat sebagai filsafat hidup demikian juga halnya. Ia menjadi pedoman. Isinya berupa ajaran dan ajaran itu dilaksanakan dalam kehidupan. Perbedaannya agama dengan filsafat adalah bila filsafat dipandang sebagai teori, maka teori itu ada yang dipakai dan ada yang tidak dipakai, ada yang diakui kebenarannya dan ada yang tidak diakui. Intinya bahwa filsafat sebagaiphilosophy of life gunanya untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan, lebih singkat lagi: untuk dijadikan agama  (Ahmad Tafsir, 2009: 43). Dan selanjutnya, bahwa filsafat sebagai metodologydalam memecahkan masalah, ada berbagai cara yang ditempuh orang bila hendak menyelesaikan sesuatu masalah. Seperti memecahkan masalah dengan  cara sains, sehingga hal ini pusat perhatiannya pada fakta empiric, namun ada juga yang menyelesaikan masalah dengan cara filsafat, dan lain sebagainya.

Berdasarkan uraian singkat di atas, dapatlah dikatakan bahwa dimensi aksiologis dari filsafat adalah berupa kegunaan filsafat dan itu luas sekali. Di mana pun dan pada apa pun filsafat diterapkan di situ filsafat memiliki kegunaan. Bila digunakan dalam pedidikan, maka akan dapat dilihat bahwa filsafat berguna bagi pendidikan, bila digunakan dalam bahasa, ia berguna bagi bahasa, dan bila digunakan dalam agama, maka filsafat juga dapat dilihat bahwa filsafat berguna bagi agama, dan seterusnya. Inilah pemehaman filsafat dalam dimensi aksiologis.

C.      Pengertian Filsafat Ilmu pengetahuan.

Untuk memahami pengertian tentang filsafat ilmu pengetahuan, akan dibahas terlebih dahulu pengertian filsafat dalam arti terminologinya. Pengertian filsafat sesuai dengan terminologinya yaitu:

1.    Filsafat adalah upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.

2.    Filsafat adalah upaya melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.

3.     Filsafat adalah untuk menentukan batas batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya, hakekatnya, keabsahannya, dan nilainya.

4.    dFilsafat adalah penyelidikan kritis atas pengandaian pengandaian dan pernyataan pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.

5.     Filsafat adalah berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan dan untuk mengatakan apa yang Anda lihat.

Jadi, pengertian filsafat secara terminologinya di atas sangat beragam baik dalam ungkapan maupun titik tekanannya. Bahkan Mohammad Hatta seorang ahli filafat Indenesia, dan Langeveld mengatakan bahwa definisi filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang memiliki titik tekan sendiri dalam definisinya. Hal ini bisa dimengerti, karena intisari berfilsafat itu terdapat dalam pembahasan bukan pada definisi. Namun definisi filsafat untuk dijadikan patokan awal diperlukan, karena untuk memberi arah dan cakupan objek yang dibahas, terutama terkait dengan filsafat ilmu 

Berikut akan dibahas tentang pengertian ilmu pengetahuan. Secara etimologis bahwa ilmu dalam bahasa Inggris adalah science, yaitu berasal dari bahasa Latin: scientia artinya pengetahuan, dan scire artinya mengetahuai, dan sinonim yang paling dekat dengan bahasa Yunani adalah episteme. Sedangkan ilmu yang berasal dari bahasa Arab adalah: ‘alima, ya’lamu, dan ‘ilman, kesemua itu artinya mengerti dan memahami benar benar.

Dari beberapa istilah di atas, lalu pengertian ilmu dalam kamus bahasa Indonesia adalah penegtahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem, menurut metode metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala gejala tertentu di bidang itu.

D.      Ciri ciri utama ilmu pengetahuan sesuai dengen terminologinya antara lain:

1.    Ilmu pengetahuan adalah sebagian pengetahuan bersifat koheren, epiris, sistematis, dapat diukur, dan dibuktikan. Hal ini beda dengan iman, yaitu pengetahuan didasarkan atas keyakinan kepada yang gaib dan pengahayatan serta pengalaman pribadi.

2.    Ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan, sebab ilmu pengetahuan tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu putusan tersendiri, melainkan ilmu pengetahuanmenandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek (alam objek) yang sama dan saling berkaitan secara logis. Oleh sebab itu, koherensi sistematik adalah hakikat ilmu pengetahuan.

3.    Ilmu pengetahuan  tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing masing penalaran perorangan, sebab ilmu pengetahuan dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.

4.    Berkaitan dengan konsep ilmu pengetahuan (pengetahuan ilmiah) adalah ide bahwa metode metode yang berhasil dan hasil hasil yang terbukti pada dasarnya harus terbuka kepada semua pencari ilmu.

5.    Ciri hakiki dari ilmu ialah metodologi, sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dan ide yang terpisah.

E.       Persamaan dan Perbedaan antara Filsafat dan Ilmu Pengetahuan

Adapun Persamaan antara Filsafat dan Ilmu Pengetahuan adalah:

1.    Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya, menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai ke akar-akarnya.

2.    Kedua-duanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang dialami, serta menunjukkan sebab-sebabnya.

3.    Keduanya hendak memberikan sintesis, yakni suatu pandangan yang begandengan.

4.    Keduanya mempunyai metode dan system.

5.    Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya yang timbul dari hasrat manusia (objektivitas), akan pengetahuan yang lebih mendasar.



Sedangkan Perbedaannya antara Filsafat dan Ilmu Pengetahuan adalah:

1.    Objek material (lapangan) penyelidikan filsafat bersifat umum (universal), yakni segala sesuatu yang ada, sedangkan objek material ilmu pengetahuan adalah bersifat khusus dan empiris.

2.    Objek formal filsafat bersifat non fragmentaris, sebab mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada secara luar, mendalam, dan mendasar (sampai pada hakekat). Sedang ilmu pengetahuan objek formalnya bersifat pragmentaris, spesifik, dan intensif, juga bersifat teknis, artinya bahwa idea idea manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita.

3.     Filsafat dilaksanakan dalam suasana menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan pengawasan. Sedangkan ilmu harus diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh sebab itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainya.

4.    Filsafat dengan pertanyaan yang lebih jauh dan mendalam berdasar pengalaman realitas sehari-hari. Sedangkan ilmu pengetahuan bersifat diskursif, yakni menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.

5.    Filsafat memberikan penjelasan yang terakhir, yang mutlak, dan mendalam sampai dasar yakni yang disebut hakekat. Sedangkan ilmu pengetahuan menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam atau yang disebut yang sekundar (secondary cause).

F.       Tujuan Filsafat Ilmu Pengetahuan

Filsafat ilmu pengetahuan tujuannya, yakni:

1.    mendalami unsure-unsur pokok ilmu pengetahuan, sehingga secara menyeluruh dapat dipahami sumber-sumber, hakikat, dan tujuan ilmu pengetahuan.

2.    Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehingga didapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.

3.    Menjadi pedoman bagi para pendidik dan anak didik dalam mendalami studi di perguruan tinggi, khususnya untuk membedakan persoalan ilmiah dan non ilmiah.

4.    Mendorng para calon ilmuwan untuk konsentrasi dalam mendalami ilmu pengetahuan dan mengembangkannya.

5.    Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu pengetahuan dan agama tidak ada pertentangan (Amsal Bakhtiar, 2004: 20).


Daftar Pustaka :

1.      Amsal Bakhtiar, 2004, Filsafat Ilmu, Jakarta, PT. Grafindo Persada


2.      Bebbington, David, 1979, Patterns in history, , England, Inter-Varsity Press


3.      Caputo, John D. 1987, Radical Hermeneutics, Bloomington and Indianapolis, Indiana University Press


4.      Harun Hadiwijono, 1988, Sari Sejarah Fil safat Yunani,Yogyakarta, Penerbit Kanisius


5.      Robert N. Beck, 1967, Perspectives in Social Philosophy, New York, Holt, Rinehart and

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contoh Proposal Usaha

TUGAS INDIVIDU PROPOSAL USAHA TAHU BULAT ISI Disusun Oleh : Nama                                  : Muhammad Budiyanto...