MAKALAH
PENELITIAN
PENGENDALIAN MUTU
CV. INDO MUSIK
Disusun Oleh:
Nama
Anggota : 1. Rosyid Anwar / 39414823
2. M. Budiyanto / 37414138
3. Rahmat F. S /
38414800
4. M. T. Nasution / 37414568
5. Aditya H. A / 30414273
6. Ardiansyah /
31414508
7. Vebya Rio Saputra / 3A414978
Kelas : 3ID15
Dosen
: Irwan Santoso
JURUSAN TEKNIK
INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI
INDUSTRI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
BEKASI
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Perumusan Masalah
Perumusan
masalah berisi tentang masalah yang akan dibahas dan dipecahkan. Berikut adalah
perumusan masalah dari pembahasan yang dimaksud.
Masalah
yang akan dipecahkan adalah bagaimana cara menekan terjadinya cacat produk yang
ada di CV. Indo Musik yang
memproduksi alat-alat musik.
1.2 Pembatasan Masalah
Pembatasan
masalah berisikan tentang batasan batasan dalam makalah. Berikut adalah
pembatasan masalah dalam makalah.
1.
Penelitian dilakukan di CV. Indo Musik.
2.
Penelitian hanya terbatas pada line produksi
bagian electric guitar yang memproduksi Gitar dan Bass.
3.
Pengambilan data dilakukan selama 5 hari
dengan durasi 25 menit dalam sehari.
1.3 Tujuan Penulisan
tujuan
penulisan makalah adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengendalian dan
Penjaminan Mutu. Berikut ini adalah tujuan dari makalah.
a.
Mengidentifikasi masalah dari terjadinya
produk No Good atau Cacat.
b.
Mengetahui frekuensi terjadinya cacat produk.
c.
Mengetahui nilai maksimal dan minimal dari
jumlah produk cacat.
BAB II
PEMBAHASAN
1.4 Landasan Teori
Untuk mendukung
pembuatan makalah ini, maka perlu dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan
permasalahan dan ruang lingkup pembahasan sebagai landasan dalam pembuatan
makalah ini.
2.1.1
Pengertian Mutu
Mutu adalah ukuran relatif dari kebendaan. Mendefinisikan mutu
dalam rangka kebendaan sangat umum sehingga tidak menawarkan makna oprasional.
Secara oprasional mutu produk atau jasa adalah sesuatu yang memenuhi atau
melebihi ekspektasi pelanggan. Sebenarnya mutu adalah kepuasan pelanggan
terhadap produk.
2.1.2
Pengendalian Mutu
Pengendalian
mutu (Quality Control), atau QC untuk akronimnya, adalah suatu proses
yang pada intinya adalah menjadikan entitas sebagai peninjau kualitas dari
semua faktor yang terlibat dalam kegiatan produksi. Terdapat tiga aspek yang
ditekankan pada pendekatan ini, yaitu:
·
Unsur-unsur
seperti kontrol, manajemen pekerjaan, proses-proses yang terdefinisi dan telah
terkelola dengan baik, kriteria integritas dan kinerja, dan identifikasi
catatan.
·
Kompetensi, seperti pengetahuan, keterampilan,
pengalaman, dan kualifikasi.
·
Elemen lunak, seperti kepegawaian, integritas,
kepercayaan, budaya organisasi, motivasi, semangat tim, dan hubungan yang
berkualitas.
Lingkup kontrol
termasuk pada inspeksi produk, di mana setiap produk diperiksa secara visual,
dan biasanya pemeriksaan tersebut menggunakan mikroskop stereo untuk
mendapatkan detail halus sebelum produk tersebut dijual ke pasar eksternal.
Seseorang yang bertugas untuk mengawasi (inspektur) akan diberikan daftar dan
deskripsi kecacatan-kecacatan dari produk cacat yang tidak dapat diterima
(tidak dapat dirilis), contohnya seperti keretak atau kecacatan permukaan.
Kualitas dari output akan beresiko mengalami kecacatan jika salah satu dari
tiga aspek tersebut tidak tercukupi.
Penekanan QC
terletak pada pengujian produk untuk mendapatkan produk yang cacat. Dalam
pemilihan produk yang akan diuji, biasanya dilakukan pemilihan produk secara
acak (menggunakan teknik sampling). Setelah menguji produk yang cacat, hal
tersebut akan dilaporkan kepada manajemen pembuat keputusan apakah produk dapat
dirilis atau ditolak. Hal ini dilakukan guna menjamin kualitas dan merupakan
upaya untuk meningkatkan dan menstabilkan proses produksi (dan proses-proses
lainnya yang terkait) untuk menghindari, atau setidaknya meminimalkan, isu-isu
yang mengarah kepada kecacatan-kecacatan di tempat pertama, yaitu pabrik. Untuk
pekerjaan borongan, terutama pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh instansi
pemerintah, isu-isu pengendalian mutu adalah salah satu alasan utama yang
menyebabkan tidak diperbaharuinya kontrak kerja.
2.1.3
Alat Ukur Pengendalian Mutu
Ada berbagai versi mengenai alat
perbaikan kualitas/mutu. Berikut alat
perbaikan kualitas/mutu yaitu :
A. Diagram Pareto
Diagram pareto atau analisis pareto didasari prinsip yang menyatakan
kebanyakan efek adalah hasil dari sedikit penyebab. Konsep ini dinyatakan
pertama kali oleh Vilfredo Pareto, ekonom Italia abad 19. Beliau mengamati
bahwa kebanyakan persentase kekayaan nasional dimiliki oleh sejumlah kecil
orang. Pareto menemukan rasionya 80:20. Kemudian ide ini ditunjuk sebagai 'sedikit
yang penting dan banyak yang tidak penting' oleh satu dari penemu peningkatan
kualitas, Joseph Juran. Sekarang ide ini sering dirujuk sebagai aturan 80:20
atau prinsip Pareto.
Tujuan analisis pareto untuk 'memisahkan sedikit yang penting dari
banyak yang tidak penting'. Dikatakan bahwa 80% cacat berasal dari 20%
penyebab. Metode analisis data ini membantu mengarahkan pekerjaan anda ke
tempat di mana dapat dilakukan peningkatan terbanyak. Sehingga analisis pareto
membantu anda memusatkan usaha ke permasalahan yang menyediakan potensi
terbesar untuk peningkatan. Kegunaan diagram pareto yaitu:
·
Membantu suatu tim untuk terpusat pada penyebab
yang akan mengharilkan dampak terbesar jika diselesaikan
·
Menampilkan kepentingan relatif dari problem dalam
format visual yang sederhana dan dapat diinterpretasi dengan cepat.
·
Membantu mencegah 'mengalihkan permasalahan' di
mana 'solusi' menghilangkan beberapa penyebab namun memperburuk yang lain
·
Kemajuan diukur dalam format yang sangat terlihat
yang menyediakan insentif untuk mendorong lebih banyak peningkatan
·
Analisis pareto dapat digunakan dalam penerapan
peningkatan kualitas manufaktur atau nonmanufaktur
Langkah-langkah menyusun diagram pareto
1. Menentukan
metode atau arti dari pengklasifikasian data, misalnya berdasarkan masalah,
penyebab jenis ketidaksesuaian, dan sebagainya
2. Menentukan
satuan yang digunakan untuk membuat urutan karakteristik‑ karakteristik
tersebut, misalnya rupiah, frekuensi, unit, dan sebagainya
3. Mengumpulkan
data sesuai dengan interval waktu yang telah ditentukan.
4. Merangkum
data dan membuat ranking kategori data tersebut dari yaang terbesar hingga yang
terkecil.
5. Menghitung
frekuensi kumulatif atau persentase kumulatif yang digunakan.
6. Menggambar
diagram batang, menunjukkan tingkat kepentingan relatif masing- masing masalah.
Mengidentifikasi beberapa hal yang penting untuk mendapat perhatian.
Berikut adalah contoh diagram pareto sebuah restoran yang ingin
meningkatkan kualitas pelayanannya dan mengumpulkan survei selama satu bulan
mengenai komplain dari pelanggan
B. Diagram Sebab-Akibat
Istilah lain dari diagram sebab akibat adalah Diagram Ishikawa,
dikembangkan oleh Kaoru Ishikawa seorang pakar kendali mutu. Sering kali
disebut sebagai fishbone diagram dikarenakan bentuknya yang menyerupai tulang
ikan. Diagram sebab-akibat menggambarkan garis dan simbol-simbol yang
menunjukkan hubungan antara akibat dan penyebab suatu masalah. Diagram tersebut
memang digunakan untuk mengetahui akibat dari suatu masalah untuk selanjutnya
diambil tindakan perbaikan. Dari akibat tersebut kemudian dicari beberapa
kemungkinan penyebabnya. Penyebab masalah ini pun dapat berasal dari berbagai
sumber utama, misalnya metode kerja, bahan, pengukuran, karyawan, lingkungan,
dan seterusnya. Selanjutnya, dari sumber-sumber utama tersebut diturunkan
menjadi beberapa sumber yang lebih kecil dan mendetail, misalnya dari metode
kerja dapat diturunkan menjadi pelatihan, pengetahuan, kemampuan, karakteristik
fisik, dan sebagainya. Untuk mencari berbagai penyebab tersebut dapat digunakan
teknik brainstorming dari seluruh personel yang terlibat dalam proses yang
sedang dianalisis.
Langkah menerapkan diagram sebab-akibat:
1. Menyiapkan
sesi sebab-akibat
2. Mengidentifikasi
akibat
3. Mengidentifikasi
berbagai kategori
4. Menemukan
sebab-sebab potensial dengan cara sumbang saran
5. Mengkaji
kembali setiap kategori sebab utama
6. Mencapai
kesepakatan atas sebab-sebab yang paling mungkin
Penggunaan
diagram tulang ikan ini ternyata memiliki manfaat yang lain yaitu bermanfaat
sebagai perangkat proses belajar diri, pedoman untuk diskusi, pencarian
penyebab permasalahan, pengumpulan data, penentuan taraf teknologi, penggunaan
dalam berbagai hal dan penanganan yang kompleks.
Manfaat diagram sebab-akibat:
1. Dapat
menggunakan kondisi yang sesungguhnya untuk tujuan perbaikan kualitas produk
atau jasa, lebih efisien dalam penggunaan sumber daya, dan dapat mengurangi
biaya
2. Dapat
mengurangi dan menghilangkan kondisi yang menyebabkan ketidaksesuaian produk
atau jasa dan keluhan pelanggan
3. Dapat
membuat suatu standardisasi operasi yang ada maupun yang direncanakan
4. Dapat
memberikan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan dalam kegiatan pembuatan
keputusan dan melakukan tindakan perbaikan
contoh
diagram sebab-akibat :

C. Stratifikasi
Stratifikasi adalah teknik yang digunakan dengan kombinasi alat analisis
data lainnya. Ketika data dari berbagai sumber atau kategori telah dikumpulkan,
arti dari data bisa tidak dapat dilihat. Teknik ini memisahkan data sehingga
polanya dapat dilihat.
Saat menggunakan stratifikasi :
·
Sebelum mengumpulkan data
·
Ketika data berasal dari beberapa sumber atau
kondisi, misalnya sif, hari-hari dalam satu minggu, pemasok atau grup populasi
·
Ketika analisis data mungkin memerlukan pemisahan
sumber atau kondisi berbeda
Prosedur Stratifikasi
1. Sebelum
mengumpulkan data, pertimbangkan informasi mana mengenai sumber data yang
mungkin berdampak pada hasil. Siapkan pengumpulan data sehingga anda dapat
mengumpulkan informasi juga.
2. Ketika
menggambar data yang terkumpul dalam diagram penyebaran, diagram kendali,
histogram atau alat lainnya, gunakan tanda atau warna yang berbeda untuk
membedakan data dari berbagai sumber. Data yang dibedakan dengan cara ini yang
disebut 'distratifikasi'.
3. Analisis
set lainnya dari data yang terstratifikasi secara terpisah. Misalnya pada
diagram penyebaran di mana data distratifikasi menjadi data dari sumber 1 dan
sumber 2, gambar kuadran, hitung titik dan tentukan nilai kritis hanya dari
data sumber 1, lalu hanya untuk data sumber 2.
Contoh
Stratifikasi
Tim
manufaktur ZZ-400 menggambar diagram penyebaran untuk mengetes apakah kemurnian
produk dan kontaminasi besi terkait, tetapi gambar tidak menunjukkan adanya
hubungan. Kemudian anggota tim menyadari bahwa datanya berasal dari tiga
reaktor berbeda. Tim kemudian menggambar ulang diagram menggunakan simbol
berbeda untuk setiap data reaktor.
Sekarang polanya dapat terlihat. Data dari reaktor 2 dan reaktor 3
dilingkari. Bahkan tanpa menghitung jelas bahwa untuk kedua reaktor tersebut
kemurnian berkurang selama besi berkurang. Namun, data dari reaktor 1, titik
yang tidak dilingkari, tidak menunjukkan hubungan tersebut. Sesuatu berbeda di
reaktor 1.
Pertimbangan dalam stratifikasi
Berikut
adalah contoh beberapa sumber berbeda yang mungkin memerlukan stratifikasi
data:
·
Perlengkapan
·
Sif
·
Departemen
·
Material
·
Penyuplai
·
Hari dalam minggu
·
Waktu
·
Produk
Selalu pertimbangkan sebelum mengumpulkan data apakah stratifikasi diperlukan selama analisis. Rencanakan untuk mengumpulkan informasi stratifikasi. Setelah data dikumpulkan mungkin sudah terlambat.
Pada gambar atau grafik, masukkan penjelasan mengenai tanda atau warna yang digunakan.
D. Lembar Pengecekan (Check Sheet)
Suatu tipe khusus dari isian untuk pengumpulan data. Lembar pengecekan
mempermudah mengumpulkan data, cenderung membuat usaha pengumpulan data lebih
akurat, dan secara otomatis menghasilkan semacam ringkasan data yang sering
sangat efektif untuk analisis cepat. Isian lembar pengecekan dibuat
masing-masing untuk situasi yang berbeda. Lembar pengecekan digunakan untuk
mengumpulkan data, bentuknya dapat berupa apa saja. Lembar pengecekan
menjabarkan satu persatu item yang akan dicek secara rutin ataupun acak, lalu
hasil pengecekan tersebut dicatat dalam bentuk data angka (numerik) atau berupa
tanda.
Kegunaan utama dari Check Sheet:
·
Untuk manajemen sehari-hari (menghindari kelupaan,
mentaati aturan-aturan operasional)
o
Contoh: equipment check list, check list pekerjaan,
6S check list, check list untuk diagnosis dokter, berbagai macam check list,
tabel statistik, check list penilaian, dan lain-lain.
·
Pemeriksaan khusus (pemeriksaan untuk permasalahan
yang spesifik)
o
Contoh: accident check list, special case analysis,
questioner, dan lain-lain.
·
Membuat catatan (mengumpulkan data/angka yang
dibutuhkan untuk pencatatan/pendataan)
o
Contoh: laporan harian produksi, quality check
list, laporan barang jadi masuk gudang, laporan catatan pengambilan material,
dan lain-lain.
Prosedur membuat lembar pengecekan:
1. Tentukan
kejadian atau masalah apa yang akan diamati. Kembangkan definisi operasional.
2. Tentukan
kapan data akan dikumpulkan dan untuk berapa lama.
3. Rancang
isiannya. Buatlah supaya data dapat direkam dengan semudah membuat tanda
centang atau X atau simbol yang mirip juga sehingga data tidak perlu disalin
ulang untuk analisis.
4. Tandai
semua tempat di isian.
5. Tes
lembar pengecekan untuk periode percobaan singkat untuk memastikan itu
mengumpulkan data yang tepat dan mudah digunakan.
6. Tiap
kali kejadian dan masalah yang disasar terjadi, rekam data di lembar
pengecekan.
contoh
lembar pengecekan
E. Histogram
Histogram adalah alat untuk menggambarkan secara grafis distribusi frekuensi.
Histogram membuat pengguna mendapatkan informasi yang berguna mengenai bentuk
dan penyebaran dari suatu set data. Yang paling penting, histogram membuat
penggambaran informasi sangat ringkas dalam format diagram batang.
Langkah menyusun histogram:
1. Menentukan
batas-batas observasi, misalnya perbedaan antara nilai terbesar dan terkecil
2. Memilih
kelas-kelas atau sel-sel. Biasanya, dalam menentukan banyaknya kelas, apabila n
menunjukkan banyaknya data, maka banyaknya kelas ditunjukkan dengan √n.
3. Menentukan
lebar kelas-kelas tersebut. Biasanya, semua kelas mempunyai lebar yang sama.
Lebar kelas ditentukan dengan membagi range dengan banyaknya kelas.
4. Menentukan
Batas-Batas kelas. Tentukan banyaknya observasi pada masing-masing kelas dan
yakinkan bahwa kelas-kelas tersebut tidak saling tumpang tindih.
5. Menggambar
frekuensi histogram dan menyusun diagram batangnya.
Interpretasi histogram
Ketika
digabungkan dengan konsep kurva normal dan pengetahuan terhadap suatu proses
tertentu, histogram menjadi alat yang efektif dan praktis dalam tahapan awal
analisis data. Histogram dapat diinterpretasikan dengan menanyakan tiga
pertanyaan :
1. Apakah
proses yang dilakukan dalam batas spesifikasi ?
2. Apakah
proses kelihatannya menghasilkan variasi yang luas ?
3. Jika
tindakan perlu diambil dalam proses, tindakan apa yang pantas ?
Jawaban
dari tiga pertanyaan tersebut berada dalam analisis tiga karakteristik
histogram
1. Seberapa
terpusat histogram ?
o
Pemusatan data menyediakan informasi mengenai
proses yang ditujukan dalam suatu arti atau nilai nominal
2. Seberapa
luas histogram ?
o
Melihat luas histogram mendefiniskan variasi proses
mengenai tujuan
3. Apa
bentuk histogram ?
o
Ingat bahwa data diharapkan berbentuk normal atau
kurva lonceng. Perubahan signifikan apa pun atau anomali biasanya
mengindikasikan adanya sesuatu yang terjadi dalam proses yang menyebabkan
masalah kualitas
5
bentuk kurva histogram dapat dilihat pada gambar berikut
F. Diagram Penyebaran (Scatter Diagram)
Diagram penyebaran merupakan cara yang paling sederhana untuk menentukan
hubungan antara sebab dan akibat dalam dua variabel. Langkah-langkah yang
diambil pun sederhana. Data dikumpulkan dalam bentuk pasangan titik (x, y).
Jika variabelnya berhubungan, titik-titik akan membentuk sebuah garis
atau kurva. Semakin baik hubungannya, semakin rapat titik mendekati garis.
Kapan menggunakan diagram penyebaran :
·
Ketika memiliki pasangan data numerik
·
Ketika variabel terikat mungkin memiliki beberapa
nilai untuk setiap nilai variabel bebas
·
Ketika ingin menetpakan apakah kedua variabel
berhubungan, semisal
1. Mencoba
mengidentifikasi kemungkinan penyebab utama masalah
2. Setelah
brainstorm sebab-akibat dengan diagram tulang ikan, untuk menetapkan secara
objektif apakah ada hubungan antara penyebab tertentu dan hasil
3. Ketika
menentukan apakah dua hasil yang terlihat berhubungan keduanya terjadi dengan
penyebab yang sama
4. Ketika
menguji untuk korelasi otomatis sebelum menyusun peta kendali
Prosedur membuat diagram penyebaran:
1. Kumpulkan
pasangan data di mana diduga memiliki hubungan
2. Gambar
grafik dengan variabel bebas pada sumbu horizontal dan variabel terikat apda
sumbu vertikal. Untuk tiap pasang data, beri titik atau simbol di mana nilai
sumbu x memotong sumbu y. (Jika dua titik terletak sama, letakkan keduanya
bersebelahan, bersentuhan, sehingga keduanya bisa terlihat)
3. Cari
pola titik untuk melihat apakah hubungannya jelas. Jika data dengan jelas
membentuk garis atau kurva, anda boleh berhenti. Variabelnya berkorelasi. Anda
mungkin ingin menggunakan regresi atau analisis korelasi sekarang. Jika tidak,
lanjutkan langkah 4 hingga 7.
4. Bagi
titik-titik pada grafik menjadi 4 kuadran. Jika ada titik sebanyak X pada
grafik
o
Hitung X/2 titik dari atas ke bawah dan gambar
garis horizontal
o
Hitung X/2 titik dari kiri ke kanan dan gambar
garis vertikal
o
Jika jumlah titiknya ganjil, gambar garis melalui
titik tengah
5. Hitung
titik di tiap kuadran. Jangan hitung titik yang terletak di garis.
6. Jumlahkan
kuadran yang berseberangan secara diagonal. Temukan jumlah yang lebih sedikit
dan total titik di seluruh kuadran.
o
A = Titik di kiri atas + titik di kanan bawah
o
B = Titik di kanan atas + titik di kiri bawah
o
Q = Yang lebih kecil antara A dan B
o
N = A + B
7. Cari
batas N pada tabel uji kecenderungan
o
Jika Q kurang dari batas, kedua variabel
berhubungan
o
Jika Q sama atau lebih besar daripada batas,
polanya mungkin terjadi dari kemungkinan acak.
Tabel
uji kecenderungan
Contoh diagram penyebaran
Tim
manufaktur ZZ-400 menduga ada hubungan antara kemurnian produk (persen
kemurnian) dan jumlah besir (diukur dalam bagian per juta atau bpj). Kemurnian
dan besi digambarkan berhadapan dalam diagram penyebaran sebagaimana pada
gambar berikut.
Ada
24 titik data. Garis median digambarkan sehingga 12 titik berada pada tiap sisi
untuk persen kemunian dan besi bpj.
Untuk
mengetes hubungan, mereka menghitung:
A
= Titik di kiri atas + titik di kanan bawah = 9 + 9 = 18
B
= Titik di kanan atas + titik di kiri bawah = 3 + 3 = 6
Q
= Yang lebih kecil antara A dan B = Lebih kecil antara 18 dan 6 = 6
N
= A + B 18 +6 = 24
Kemudian
mereka mencari batas N pada tabel uji kecenderungan. N = 24, batasnya = 6.
Q
sama dengan batas, sehingga polanya dapat terjadi karena kemungkinan acak dan
tidak ada hubungan yang ditampilkan.
G. Grafik dan Peta Kendali (Graph & Control Chart)
Sebelum memasuki permasalahan inti mengenai peta kendali, pertama-tama
bahas soal variasi dulu. Variasi adalah fenomena alami. Variasi mungkin cukup
besar dan mudah dikenali (tinggi badan) atau mungkin sangat kecil dan susah
dikenali dengan inspeksi visual (berat pena ball poin). Ketika variasinya
sangat kecil, bendanya mungkin terlihat identik, tetapi instrumen yang presisi akan
menunjukkan perbedaannya. Dalam manufaktur ada tiga kategori variasi :
1. Variasi
dalam bagian
2. Variasi
antar bagian
3. Variasi
dari waktu ke waktu
Hal
ini juga berlaku dalam situasi nonmanufaktur. Dalam proses manufaktur variasi
terjadi karena :
·
peralatan
·
material
·
operator
·
lingkungan
·
inspeksi atau pengukuran
Faktor
yang sama mengarah ke variasi dalam proses non manufaktur.
Penyebab variasi ada dua, yaitu penyebab umum variasi , atau kemungkinan acak, dan penyebab khusus variasi atau yang dapat ditentukan.
Penyebab umum variasi (kemungkinan acak). Penyebab variasi tersebut melekat dalam suatu proses. Pada dasarnya mereka adalah penyebab acak. Jumlahnya kecil dan sangat susah dideteksi atau diidentifikasi. Sering kali penyebab umum variasi atau kemungkinan acak antara tidak mungkin atau sangat mahal untuk dihilangkan. Jika suatu porses memiliki variasi hanya karena penyebab kemungkinan acak, proses ini disebabkan berada dalam kendali statistik. Proses semacam itu juga disebut proses stabil.
Penyebab khusus variasi (dapat ditentukan) Proses mungkin dari waktu ke waktu mengalami variasi tambahan, yang biasanya besar dan disebabkan oleh beberapa faktor luar. Misalnya material bawah standar dari penyedia, mesin yang diset salah, atau penggunaan alat yang salah. Jika penyebab khusus variasi ada dalam suatu proses, proses itu disebut di luar kendali.
Penyebab variasi ada dua, yaitu penyebab umum variasi , atau kemungkinan acak, dan penyebab khusus variasi atau yang dapat ditentukan.
Penyebab umum variasi (kemungkinan acak). Penyebab variasi tersebut melekat dalam suatu proses. Pada dasarnya mereka adalah penyebab acak. Jumlahnya kecil dan sangat susah dideteksi atau diidentifikasi. Sering kali penyebab umum variasi atau kemungkinan acak antara tidak mungkin atau sangat mahal untuk dihilangkan. Jika suatu porses memiliki variasi hanya karena penyebab kemungkinan acak, proses ini disebabkan berada dalam kendali statistik. Proses semacam itu juga disebut proses stabil.
Penyebab khusus variasi (dapat ditentukan) Proses mungkin dari waktu ke waktu mengalami variasi tambahan, yang biasanya besar dan disebabkan oleh beberapa faktor luar. Misalnya material bawah standar dari penyedia, mesin yang diset salah, atau penggunaan alat yang salah. Jika penyebab khusus variasi ada dalam suatu proses, proses itu disebut di luar kendali.
Lalu,
bagaimana kita tahu ketika suatu proses beroperasi di bawah penyebab khusus
variasi ? Dengan kata lain, bagaimana kita tahu jika sebuah proses berada di
luar kendali ? Jawabannya adalah peta kendali.
Peta kendali merupakan grafik yang digunakan untuk mempelajari bagaimana
proses berubah seiring waktu. Data digambarkan menurut urutan waktu. Peta
kendali selalu memiliki garis tengah untuk rata-rata, garis atas untuk batas
kendali atas dan garis bawah untuk batas kendali bawah. Garis tersebut
ditentukan dari data masa lampau. Dengan membandingkan data saat ini dengan
garis tersebut, anda dapat menarik kesimpulan apakah variasi proses konsisten
(dalam kendali) atau tidak dapat diprediksi (di luar kendali, dipengaruhi
penyebab khusus variasi). Peta kendali juga memberi tahu kita kapan untuk
membiarkan prosesnya saja atau kapan untuk mulai mencari penyebab khusus
variasi.
Peta kendali untuk data bervariasi digunakan secara berpasangan. Peta
atas memantau rata-rata, atau pemusatan distribusi data dari proses. Peta bawah
memantau jangkauan, atau lebar distribusi. Jika data anda adalah tembakan dalam
latihan menembak, rata-ratanya adalah di mana tembakan terkumpul, dan
jangkauannya seberapa rapat mereka terkumpul. Peta kendali untuk data atribut digunakan
satu demi satu.
H. Run Chart
Run Chart digunakan untuk menganalisis proses menurut waktu atau urutan.
Run chart biasanya berguna dalam menemukan pola yang terjadi dalam suatu waktu.
Run chart dianalisis untuk menemukan anomali dalam data yang menunjukkan
pergeseran dalam proses dari waktu ke waktu atau faktor khusus yang mungkin
memengaruhi variabilitas suatu proses. Faktor khas dipertimbangkan termasuk
panjangnya 'jalan' titik data di atas atau di bawah garis rata-rata yang tidak
umum, total jumlah jalan seperti itu dalam set data, serta rentetan kenaikan
atau penurunan berurutan yang tidak umum.
Run chart dalam beberapa hal mirip dengan peta kendali yang digunakan dalam pengendalian proses statistik, tapi tidak menunjukkan batas kendali proses. Sehingga run chart lebih mudah dibuat, namun tidak memungkinkan teknik analisis selengkap peta kendali.
Run chart dalam beberapa hal mirip dengan peta kendali yang digunakan dalam pengendalian proses statistik, tapi tidak menunjukkan batas kendali proses. Sehingga run chart lebih mudah dibuat, namun tidak memungkinkan teknik analisis selengkap peta kendali.
I. Diagram Alir (Flow Chart)
Untuk membuat sebuah tim mengidentifikasi aliran sebenarnya atau urutan
kejadian dalam suatu proses di mana barang atau jasa mengalir.
Flowchart dapat diterapkan ke dalam apa saja dari perjalanan pembayaran atau aliran material, hingga langkah-langkah membuat penjualan atau servis sebuah produk.Simbol flow chart
Flowchart dapat diterapkan ke dalam apa saja dari perjalanan pembayaran atau aliran material, hingga langkah-langkah membuat penjualan atau servis sebuah produk.Simbol flow chart
Tips membuat flow chart :
1. Jaga
flow chart sederhana
2. Selama
situasi membutuhkan, tambah atau buat simbol lain
3. Konsisten
dalam level detail yang ditampilkan
4. Beri
tiap langkah kata-kata yang dapat dipahami setiap orang
5. Identifikasi
karya anda. Termasuk judul proses, tanggal diagram dibuat dan nama anggota tim
Selama
dan setelah membuat flow chart, selalu jaga dalam pikiran faktor dan pertanyaan
berikut
1. who
(siapa)
2. what
(apa)
3. when
(kapan)
4. why
(kenapa)
5. where
(di mana)
6. how
(bagaimana)
Pertanyaan lainnya yang harus ditanyakan untuk tiap tindakan atau langkah dalam flow chart
·
Hapus
·
Gabung
·
Sederhanakan
·
Ubah urutan
5M
check list :
·
man (operator)
·
machines
·
material
·
methods
·
measurement
1.5 Hasil dan Pembahasan
Hasil pembahasan
Makalah adalah menyajikan data alat ukur pengendalian mutu. Berikut adalah alat
ukur pengendalian mutu/kualitas.
KODE
SIMBOL
G
: Gitar
B
: BASS
D
: DEKOK ATAU BOPENG
KB
: KURANG BUFFING
TB
: PENGELAPAN TIDAK BERSIH
SK
: STRING (SENAR) KENDUR
*
: UNIT
Hari
//
Produk
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
Jumlah per unit
|
Gitar 1
|
D (4*)
KB (1*)
|
KB
(4*)
|
D (2*)
TB (1*)
|
D (1*)
|
TB (6*)
|
19*
|
Gitar 2
|
D ( 3*)
KB (4*)
|
KB (3*)
TB (1*)
|
TB (3*)
|
14*
|
||
Gitar 3
|
KB (1*)
|
D (1*)
|
2*
|
|||
Gitar 4
|
D (1*)
|
SK (2*)
|
3*
|
|||
Gitar 5
|
D (2*)
|
2*
|
||||
Bass 1
|
TB (6*)
|
KB (5*)
|
D (2*)
|
13*
|
||
Bass 2
|
KB (2*)
|
KB (2*)
|
D (1*)
|
5*
|
||
Bass 3
|
SK (1*)
|
1*
|
||||
Bass 4
|
KB (1*)
|
D (5*)
|
D (5*)
|
11*
|
||
Bass 5
|
KB (1*)
|
D (1*)
|
2*
|
|||
Jumlah per hari
|
17*
|
18*
|
11*
|
10*
|
16*
|
2.2.1
Check Sheet
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
jumlah
|
|
Gitar 1
|
5
|
4
|
3
|
1
|
6
|
19
|
Gitar 2
|
7
|
0
|
4
|
0
|
3
|
14
|
Gitar 3
|
1
|
1
|
0
|
0
|
0
|
2
|
Gitar 4
|
0
|
0
|
1
|
2
|
0
|
3
|
Gitar 5
|
0
|
0
|
2
|
0
|
0
|
2
|
Bass 1
|
0
|
6
|
0
|
5
|
2
|
13
|
Bass 2
|
2
|
2
|
0
|
1
|
0
|
5
|
Bass 3
|
0
|
0
|
1
|
0
|
0
|
1
|
Bass 4
|
1
|
5
|
0
|
0
|
5
|
11
|
Bass 5
|
1
|
0
|
0
|
1
|
0
|
2
|
Jumlah
|
17
|
18
|
11
|
10
|
16
|
72
|
Analisis:
Frekuensi rata rata
terjadinya cacat roduk adalah 15 produk dalam sehari yang didapat dari jumlah
produk cacat dibagi hari.
2.2.2
Histogram
Hari Ke-1
|
Hari Ke-2
|
Hari Ke-3
|
Hari Ke-4
|
Hari Ke-5
|
17
|
18
|
11
|
10
|
16
|

Analisis:
Tipe histogram yang terbentuk
adalag histogram gergaji. Puncak tertinggi terjadinya produk cacat berada di
angka 18 yang terjadi di hari ke 2. Dan titik terendah berada di hari ke 4
dengan nilai 10.

Analisis:
Pada sudut pandang produk,
produk gitar 1 menduduki puncak banyaknya produk cacat yaitu sebesar 19.
Sedangkan titik terendah berada di produk Bass 3 yaitu sebesar 2 unit.
2.2.3
Diagram Pareto
dekok
|
buffing
|
kotor
|
kendor
|
28
|
24
|
17
|
3
|

Analisis:
Tren terjadinya produk cacat paling banyak masalah dekok
pada produk, sementara cacat karena senar kendor menjadi penyebab cacat yang
paling sedikit.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Frekuensi rata rata terjadinya cacat roduk adalah 15 produk
dalam sehari yang didapat dari jumlah produk cacat dibagi hari. Pada diagram
histogram berdasarkan hari, Puncak tertinggi terjadinya produk cacat berada di
angka 18 yang terjadi di hari ke 2. Dan titik terendah berada di hari ke 4
dengan nilai 10. Sedangkan dari segipandang produk, produk gitar 1 menduduki
puncak banyaknya produk cacat yaitu sebesar 19. Sedangkan titik terendah berada
di produk Bass 3 yaitu sebesar 2 unit. Tren terjadinya produk cacat paling
banyak masalah dekok pada produk, sementara cacat karena senar kendor menjadi
penyebab cacat yang paling sedikit.
DAFTAR PUSTAKA
Ulrich.
K. T., Eppinger. D. S. (2001), Perancangan Pengembangan Produk, Salemba Empat,
Jakarta.
Sugiono. 2010. Statistika untuk penelitian. Bandung. Alfabeta
Juliandi.
(2007). ”Validitas dan Reabilitas”. E-learning.
Rahman, A., & Supomo, H. (2012). Analisa Kepuasan
Pelanggan pada Pekerjaan
Reparasi Kapal dengan Metode Quality Function Deployment (QFD). Jurnal
Teknik ITS, 1(1), G297-G302.
http://asq.org/index.aspx
http://en.wikipedia.org/
http://evgust.wordpress.com/2011/04/05/7-tujuh-alat-perbaikan-kualitas/
http://flyangeldiary.blogspot.com/2009/07/7-metode-pengendalian-mutu.html
http://kualitasproses.wordpress.com/pengendalian-kualitas/
http://en.wikipedia.org/
http://evgust.wordpress.com/2011/04/05/7-tujuh-alat-perbaikan-kualitas/
http://flyangeldiary.blogspot.com/2009/07/7-metode-pengendalian-mutu.html
http://kualitasproses.wordpress.com/pengendalian-kualitas/
http://www.emu.edu.tr/~oyagiz/mgmt512/qctools-REV%20for%20MGMT%20512R-BW.pdf






