PROPOSAL
PENELITIAN PENGENDALIAN MUTU
PT. FILTRONA INDONESIA

Disusun
Oleh:
Nama Anggota : 1. Rosyid Anwar / 39414823
2. M.
Budiyanto / 37414138
3. Rahmat F. S / 38414800
4. M. T. Nasution / 37414568
5. Aditya H. A / 30414273
6. Ardiyansyah / 31414508
7. Vebya
Rio Saputra / 3A414978
8. Fery
Hidayat / 34414171
Kelas : 3ID15
Dosen : Irwan Santoso
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2016
PROPOSAL
1.1
Latar Belakang
Didalam dunia industri
cacat merupakan permasalahan yang perlu diperhatikan oleh perusahaan. Didalam
dunia industri terdapat dua jenis cacat, yaitu : cacat yang dapat diolah
kembali dan cacat yang sudah tidak dapat diolah kembali. Untuk jenis cacat yang
masih dapat diolah kembali tentunya perusahaan tidak terlalu dirugikan (produk
yang menjadi cacat masih dapat di rework lagi dan membutuhkan biaya
untuk proses produksi baru) tetapi untuk jenis cacat yang tidak dapat diolah
kembali perusahaan akan rugi (material akan terbuang sia-sia), oleh karena itu
banyak cara yang dilakukan oleh perusahaan untuk meminimalisasi terjadinya
cacat. Dengan meminimalisasi jumlah cacat maka nilai efisiensi mesin akan
meningkat sehingga upaya untuk mendapatkan profit sebanyak-banyaknya
akan tercapai. Dengan mendapatkan profit yang tinggi maka diharapkan
dapat memenangkan persaingan dengan kompetitor lainnya. Persaingan tidak hanya
terjadi didalam pasar lokal saja akan tetapi pasar dunia juga (persaingan
memperebutkan pasar yang sama dengan banyak kompetitor yang memiliki produk
kompetitif, harga terjangkau, dan jaminan kualitas).
PT. FILTRONA INDONESIA merupakan
perusahaan penghasil filter rokok, dimana terdapat berbagai macam produk filter
mulai dari Mono Acetate Filters, Black Active Acetat Filters sampai
dengan Special Filters seperti Thread Filter, NWA (non wrap acetate),
COR dan juga Dual Filters. Produk-produk yang dihasilkan oleh
perusahaan ini tidak hanya dipesan oleh perusahaan–perusahaan rokok dari dalam negeri
saja tetapi banyak juga perusahaan rokok luar negeri yang memesan produk dari
PT. FILTRONA INDONESIA, seperti diantaranya : perusahaan rokok dari negara
cina, inggris, dll.
Dual filter merupakan gabungan antara mono
acetat dan black active acetat filters, yang mana kegiatan
produksinya dimulai dari proses produksi dari mesin KDF2 (menghasilkan mono
acetat filter) dan mesin KDF2 carbon (menghasilkan black active acetat
filters). Mono acetat dan black active acetat filters yang
selesai diproduksi dimasukkan ke dalam tray yang kemudian akan
diletakkan pada palet. Palet tersebut nantinya akan dipindahkan
menuju storage sementara (masing-masing mesin memiliki storage sementara
sendiri-sendiri), dari strorage sementara filter akan dibawa menuju
mesin dual untuk digabungkan.
Dalam memproduksi filter
rokok membutuhkan satu mesin, yang mana didalam mesin tersebut terdapat
komponen-komponen yang memiliki fungsi berbeda-beda. Ketika terdapat filter
yang tidak sesuai dengan spesifikasi order maka filter tersebut akan secara
otomatis akan keluar dari mesin. Filter-filter yang lolos dari proses inspeksi
didalam mesin nantinya juga akan diinspeksi ulang setelah filter dimasukkan
kedalam tray dan sebelum filter akan dikirim ke konsumen. Proses
inspeksi yang dilakukan diluar mesin dilakukan secara manual (untuk mengetahui
cacat filter secara visual). Selain inspeksi secara manual, filter juga
diinspeksi dengan mesin QTM (Quality Tester Module). Pada mesin QTM ini
nantinya akan dapat diketahui secara detail tentang kadar PD (Preassure
Droop) dan berat filter. Proses inspeksi yang kedua ini dilakukan karena
pihak perusahaan masih belum mempercayai kinerja mesin. Proses pengiriman
filter ke konsumen pada palet ada yang dilakukan dengan sistem pressing palet,
maksudnya palet yang sudah diinspeksi akan di kemas dengan platik untuk meredam
terjadinya goncangan (agar filter tidak rusak) dan tanpa pembungkus plastik.
Palet yang dibungkus dengan menggunakan plastik hanya dilakukan pada
pesanan-pesanan luar negeri.
Menurut John Moubry
(1992) dalam bukunya yang berjudul reliability centered maintenance II
(RCM II), failure modes and effect analysis didefinisikan sebagai metode
yang digunakan untuk mengidentifikasi bentuk kegagalan yang mungkin menyebabkan
setiap kegagalan fungsi dan untuk memastikan pengaruh kegagalan berhubungan
dengan setiap bentuk kegagalan. Metode tersebut diimplementasikan dengan
harapan dapat menurunkan tingkat cacat dari output. Cacat pada produk
tidak hanya terjadi pada proses akhir saja melainkan bisa juga terjadi pada
awal maupun pada saat proses produksi sedang berlangsung. Melalui metode failure
modes and effect analysis process (FMEAP) diharapkan dapat
mengidentifikasikan setiap bentuk kegagalan yang ada pada proses produksi.
Dengan diidentifikasikannya setiap bentuk kegagalan tersebut maka dapat
dilakukan langkah-langkah perbaikan yang nantinya dapat diterapkan dalam
mengantisipasi terjadinya cacat produk.
Banyaknya
jumlah cacat yang terjadi pada mesin dual D3E tentunya merupakan problem yang
harus diselesaikan oleh PT. FILTRONA INDONESIA. Dengan meningkatnya jumlah
cacat maka nilai dari efisiensi mesin akan turun. Hal ini disebabkan, jika
terjadi cacat maka material (dari produk cacat) akan terbuang sia-sia, sehingga
nantinya akan berpengaruh terhadap jumlah output yang dihasilkan.
Semakin banyak jumlah cacat yang terjadi maka terdapat problem tentang
efisiensi mesin. Cacat yang dihasilkan oleh PT. FILTRONA INDONESIA ini tidak
dapat di rework sehingga jika terdapat kerusakan pada mesin atau mesin downtime
seketika maka cacat akan semakin bertambah. Ketika mesin mengalami downtime
maka mesin akan mengeluarkan produk cacat, operator akan dapat
mengidentifikasi jenis kerusakan yang terjadi pada mesin sampai mengakibatkan
mesin berhenti beroperasi. Kegiatan penanganan yang dilakukan oleh operator ini
bersifat sementara (mesin sewaktu-waktu akan mengalami kerusakan yang sama)
maka perlu dilakukan perawatan secara berulang-ulang kali
.
1.2
Perumusan Masalah
Perumusan
masalah berisi tentang masalah yang akan dibahas dan dipecahkan. Masalah yang
akan dipecahkan adalah keinginan perusahaan untuk mengurangi jumlah cacat
yang terjadi pada proses pembuatan dual filter sehingga nantinya
diharapkan nilai efisiensi dari mesin dual D3E dapat meningkat.
1.3
Pembatasan Penelitian
Batasan Penelitian yang
digunakan dalam Tugas ini adalah :
1. Penelitian dilakukan pada objek
pengamatan dual filter.
2. Pengamatan dilakukan pada mesin dual
D3E.
3. Operator
yang bertugas mengoperasikan mesin adalah operator yang berwenang menangani
mesin secara langsung.
1.4
Tujuan Penelitian
Tujuan yang akan dicapai
dalam Tugas Penelitian ini adalah :
- Menggambarkan
keadaan sebenarnya dari perusahaan saat penelitian dilakukan.
- Mengidentifikasi
potensi penyebab kegagalan dalam proses produksi.
- Melakukan
perbaikan pada proses produksi sehingga didapatkan nilai efisiensi yang
meningkat.
1.5
Metode Penelitian
Tahap
penelitian merupakan sebuah kerangka penelitian yang memuat langkah-langkah
yang akan ditempuh dalam memecahkan permasalahan yang dicapai. Bab ini
merupakan tahap-tahap dan tata cara penulisan laporan penelitian. Fungsinya
adalah sebagai kerangka utama yang menjaga arah tata cara penulisan
laporan penelitian untuk mencapai tujuan yng ditetapkan dan meminimalisasi
kesalahan yang mungkin timbul pada penulisan laporan.
1.5.1 Identifikasi Masalah
Pada tahap
ini dilakukan pengamatan awal pada perusahaan untuk melihat kondisi sebenarnya
dari perusahaan dan mencari permasalah yang dihadapi oleh perusahaan, dalam hal
ini adalah jumlah defect yang tinggi.
1.5.2 Perumusan Masalah dan Menentukan Tujuan Penelitian
Melalui tahap
idntifikasi masalah, maka permasalahan yang akan diteliti adalah meningkatkan
efisiensi mesin dual. Dengan adanya defect yang tinggi pada produk
menunjukkan bahwa nilai efisiensi dari mesin akan menurun. Untuk dapat menyelesaikan
permasalahan maka ditetapkan tujuan penelitian dari Tugas ini adalah :
- Menggambarkan
keadaan sebenarnya dari perusahaan saat penelitian dilakukan.
- Mengidentifikasi
potensi penyebab kegagalan dalam proses produksi.
- Melakukan
perbaikan pada proses produksi sehingga didapatkan nilai efisiensi yang
meningkat.
1.5.3 Studi Pustaka
Pada tahap ini dilakukan studi
pustaka dengan tujuan untuk mendapatkan konsep serta metode yang berhubungan
dengan masalah dan tujuan penelitian yang akan dicapai.
1.5.4 Studi Lapangan
Melakukan studi pada perusahaan
dilakukan dengan pengamatan dan orientasi di lantai produksi, untuk melihat
kondisi nyata produksi filter rokok.
1.5.5 Pengumpulan Data
Pada tahap ini dilakukan dilakukan
pemgumpulan informasi yang berhubungan dengan proses pembuatan dual filter,
pengidentifikasian jenis cacat secara visual yang terjadi pada dual filter, dan
penentuan jenis cacat yang sering muncul pada dual filter. Pengumpulan
informasi dilakukan dengan melihat langsung kondisi lantai produksi sebenarnya
dan dan menanyakan secara langsung kepada pihak supervasior tentang proses
produksi dan jenis cacat yang dapat di identifikasi secara visual.
1.5.6 Pengolahan Data
Pada tahap
ini dilakukan pengukuran terhadap besarnya nilai severity, occurance,
dan detection pada proses pembuatan dual filter dengan menggunakan mesil
dual D3E. Penentuan nilai severity, occurance, dan detection tersebut
dilakukan dengan cara brainstorming dengan pihak supervisior PT.
FILTRONA INDONESIA. Hal tersebut dilakukan karena pihak supervasior dipandang
memiliki keahlian, pengalaman kerja dan mengenal banyak tentang karakteristik
dari mesin yang bersangkutan sehingga menjamin suatu kepastian tentang
keakuratan data yang diperoleh.
1.5.7 RPN (Risc
Priority Number)
Setelah mengetahui nilai severity,
occurance, dan detection pada proses pembuatan dual filter, maka
akan diketahuai nilai RPN = S x O x D yang kemuadian akan dipilih nilai RPN
yang paling besar untuk dilakukan recomanded action.
1.5.8 Implementasi dan Solusi Perbaikan Proses
Setelah mengetahui alternatif perbaikan
proses yang telah dipilih, maka pada tahap ini dilakukan implementasi terhadap
alternatif perbaikan tersebut. Dengan membandingkan antara kondisi sistem
sebelum perubahan dengan sesudah perubahan, maka kita dapat melihat hasil dari
implementasi tersebut.
1.5.9 Penentuan Niai Efisien Mesin Setelah Implementasi
Setelah
tahap implementasi tersebut selesai dilakukan, maka wujud dari tahap
implementasi yang dapat dilihat yaitu berupa nilai efisiensi mesin. Dimana
nantinya jika nilai efisiensi mesin setelah implementasi mengalami peningkatan
maka implementasi dari alternatif perbaikan yang dipilih tersebut telah
berhasil.
1.5.10 Kesimpulan dan Saran
Pada tahap ini dilakukan penarikan
kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan, serta saran-saran untuk
penelitian selanjutnya yang memiliki kaitan dengan penelitian ini, serta
pihak-pihak yang berkepentingan dalam upaya peningkatan efisiensi mesin secara
kontinyu.
1.6
Rencana Waktu Penelitian
Penelitian Tugas Akhir
ini akan dilaksanakan selama empat bulan dari periode September sampai Desember
2016. Agar penelitian Tugas Akhir berjalan dengan baik, maka diperlukan adanya
jadwal penelitian. Adapun jadwal kegiatan secara umum diiperlihatkan dalam gant
chart di bawah ini :
1.7
Daftar Pustaka
Dhillon, B. S. 1992. System
Reliablibity, Maintainability and Management. Department of Mechanical
Engineering University Of Ottawa.
Dieter, G.E. 2003. Engineering
Design 3rd Edition. McGraw-Hill International Editions.
Eugenee Yanti A. 2004. Eliminasi
Terjadinya Defect Cetakan Etiket Sampoerna Hijau di PT. Sampoerna Percetakan
Nusantara Dengan Metode Failure Mode and Effect Analysis Process. Tesis,
Jurusan Teknik Industri., ITS.
Fandy Tjiptono dan
Anastasia D. 1994. Total Quality Management. Andi Yogyakarta.
Rico S.
2005. Mereduksi Defect Dan Biaya Kerugian Produk Dengan Metode Failure Mode
and Effect Analysis Process. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Industri., ITS.