MAKALAH
LINGKUNGAN HIDUP
NamaAnggota
/ NPM : 1. Rosyid
Anwar /39414823
2. M.
Budiyanto / 37414138
3.
Rahmat F. S / 38414800
4.
M. Tigor. NST / 37414568
5.
Aditya H. A / 30414273
6. Ardiyansyah / 31414508
7. Vebya Rio Saputra / 3A414978
8. Feri Hidayat / 34414171
Kelompok : 1 (Satu)
Kelas : 3ID15
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadiratTuhan Yang
Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya,
penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Adapun tujuan penulisan
makalah ini untuk memenuhi tugas dengan judul ”Penyebab dan Dampak Negatif
dari Banjir serta Cara Menanggulanginya”. Dengan membuat tugas ini,
kami mengharapkan mampu untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan
sehingga tidak rawan terjadinya bencana banjir.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami
kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun,
berkat bimbingan dan bantuan dari pihak lain, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa yang
masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya.
Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritikdan saran yang bersifat positif,
guna penulisan makalah yang lebih baik lagi. Harapan kami, semoga makalah yang
sederhana ini dapat berguna bagi kita semua.
Bekasi, 28Maret
2017
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………...............i
DAFTAR ISI …………………………………………………………........…..ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang …………………………………...………………….......1
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………..1
1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………………………2
1.4
MetodePenulisan………………………………….…………………......2
1.5 KegunaanMasalah………………………….……………………...…….2
1.6 SistematikaPenulisan………………………..…………………...………2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 PengertianBanjir ………………………………………………………..3
2.2 Jenis-Jenis
Banjir ..…………………………………………………........3
2.3 Penyebab
Terjadinya Banjir …………………………………………….6
2.4 Dampak
Negatif Banjir ……….…………………….. ……………........8
2.5 Cara
Mencegah Banjir ………………….…………………………........8
2.6 Cara
Penanggulangan Banjir ………….………………………………..11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan …………………………………………………… ………14
3.2 Saran ………………………………………. ………………………….14
DAFTAR PUSTAKA …………....……………………...……………...........15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banjir adalah peristiwa tergenang dan
terbenamnya daratan (yang biasanya
kering) karena volume air yang
meningkat. Hampir seluruh negara di dunia mengalami masalah banjir, tidak
terkecuali di negara-negara yang telah maju sekalipun.
Penyebab banjir
biasanya dikarenakan adanya curah hujan yang tinggi, permukan tanah yang
lebih rendah dibandingkan permukaan laut, pemukiman yang membangun pada
dataran sepanjang sungai atau kali, adanya sampah
sehingga aliran sungai tidak lancar.
Di saat sekarang ini masyarakat sudah tidak peduli lagi terhadap
lingkungan hidup tempat mereka tinggal.Hal ini telihat dari semakin sedikitnya
masyarakat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Banyak masyarakat yang
masih membuang sampah sembarangan juga menggundulkan hutan. Merusak lingkungan atau
mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan dapat menyebabkan terjadinya
banjir.
Berdasarkan kondisi dan keadaan di lingkungan tersebut, kami menyusun makalah
ini agar masyarakat memiliki kesadaran tersendiri bahwa menjaga kebersihan dan
kelestarian lingkungan itu sangat penting.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan tujuan makalah diatas, maka masalah-masalah yang
dibahas dapat di rumuskan sebagai berikut :
a.
Apa pengertian banjir?
b.
Apa penyebab banjir ?
c.
Apa dampak banjir?
d.
Bagaimana cara mencegah banjir?
e.
Bagaimana
cara menanggulangi banjir?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan makalah yang
kami susun ini antaralain:
a.
Untuk mengetahui penyebab banjir
b.
Untuk mengetahui dampak dari banjir
c.
Untuk mengetahui cara menanggulangi banjir
d.
Untuk mengetahui cara mencegah terjadinya
banjir
1.4 Metode Penulisan
Untuk mendapatkan data dan informasi yang
diperlukan, dalam membuat makalah ini kamimempergunakan metode
studi pustaka.Tidak hanya itu, kami juga mencari bahan dan sumber-sumber dari
media masa elektronik yang berjangkauan internasional yaitu internet.
1.5 Kegunaan Masalah
Hasil penulisan makalah ini mempunyai beberapa
manfaat, antara lain:
a.
Segi kehidupan, warga sekitar yang terkena
banjir saling bergotong royong serta mendapatkan bantuan untuk meringankan
beban korban.Bahkan bagi pemulung banjir dimanfaatkan untuk mencari
barang-barang yanghanyut.
b.
Segi industri, banjir dimanfaatkan untuk
membuang limbah.
c.
Bagi relawan, banjir dimanfaatkan untuk
mengabdi kepada yang membutuhkan.
d.
Bagi pemda setempat, banjir dimanfaatkan untuk
berbagi komisi.
e.
Bagi pemerintah pusat, banjir dimanfaatkan
untuk tender mega proyek.
1.6 Sistematika Penulisan
Pada makalah ini akan dijelaskan, yang dimulai
dengan bab pendahuluan. Bab ini meliputi latar belakang masalah, perumusan
masalah, tujuan , metode, kegunaan penulisan,
sampai terahir kepada sistematika penelitian. Dilanjutkan dengan bab
kedua, kami membahas secara keseluruhan tentang masalah yang diangkat, yaitu
tentang banjir.
Bab ketiga merupakan bab penutup
dalam makalah ini. Pada bagian ini, kami menyimpulkan
uraian yang sebelumnya sudah disampaikan, dan memberi saran mengenai apa yang
sebaiknya kita lakukan agar tidak rawan terhadap bencana banjir.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Banjir
Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air. Peristiwa banjir timbul jika air menggenangi daratan yang
biasanya kering. Banjir pada umumnya
disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan
sekitarnya sebagai akibat curah hujan yang tinggi. Kekuatan
banjir mampu merusak rumah dan menyapu fondasinya. Air banjir juga
membawa lumpur berbau yang dapat menutup segalanya setelah
air surut. Banjir merupakan hal
yang rutin. Setiap tahun
pasti datang. Banjir sebenarnya merupakan fenomenal
kejadian
alam biasa yang sering terjadi dan dihadapi hampir di seluruh negara-negara di
dunia, termasuk Indonesia. Banjir sudah temasuk
dalam urutan bencana besar
karena memakan korban besar.
2.2 Jenis-jenis
Banjir
Berdasarkan sumber air yang menjadi penampung di bumi, jenis banjir
dibedakan menjadi tiga, yaitu banjir
sungai, banjir
danau, dan banjir
laut pasang.
A. Banjir
Sungai
Banjir Sungai Citarum semakin meluas pada Rabu (24/3), merendam
10 kecamatan dengan 15.510 rumah di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sehari
sebelumnya, sembilan kecamatan dengan 9.561 rumah terendam air setinggi
rata-rata tiga meter. Dampak banjir yang meluas di 10 kecamatan tersebut memicu
tanggapan Bupati Karawang Dadang S. Muchtar yang
menyayangkan upaya pengendalian banjir yang dinilai terlambat itu.
Menurut Dadang, Perusahaan Umum Jasa Tirta (PJT) II selaku
pengelola Waduk Ir. Juanda Jatiluhur
seharusnya sejak awal mengoptimalkan pelepasan/penggelontoran air waduk untuk
mencegah banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di Karawang dan di
Bekasi. Dadang berharap instansi terkait segera menempuh langkah
antisipasi untuk mencegah meluasnya banjir. PJT II, kemarin, mengoptimalkan
penggelontoran air Bendung Curug dan Bendung Walahar ke tiga saluran induk,
yakni Tarum Barat, Tarum Utara, dan Tarum Timur untuk mengurangi debit air yang
mengalir ke hilir Sungai Citarum. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi luas
genangan air di sepanjang aliran sungai yang meliputi 10 kecamatan.Kesepuluh
kecamatan tersebut adalah Karawang Barat (dengan 7.389 rumah terendam),
Karawang Timur (412 rumah), Teluk Jambe Timur (3.576 rumah), Teluk Jambe Barat
(494 rumah), Ciampel (81 rumah), Batujaya (250 rumah), Pakisjaya (1.533 rumah),
Rengasdengklok (486 rumah), dan Klari (97 rumah). Kecamatan terakhir yang ikut
terendam banjir, sejak Rabu dini hari adalah Kecamatan Jayakarta (1.192 rumah).
Adapun luas sawah terendam banjir di Karawang mencapai 817
hektar dan tersebar di tujuh kecamatan, yakni Teluk Jambe Timur (180 ha),
Karawang Barat (9 ha), Klari (5 ha), Ciampel (67 ha), Teluk Jambe Barat (130
ha), Batujaya (32 ha), dan Pakisjaya (342 ha). Usia padi 1-10 hari (persemaian)
dan sekitar 50 ha usia 11-100 hari. Menurut Kepala Dinas Pertanian Karawang
Nahrowi Muhamad Nur, luas sawah yang terendam pada Rabu siang bertambah menjadi
842 ha seiring meluasnya genangan. Penambahan terjadi di tujuh kecamatan
tersebut.
Kepala Biro Operasi dan Konservasi PJT II Sutisna Pikrasaleh
menjelaskan, debit yang dialirkan ke tiga saluran dioptimalkan hingga kapasitas
maksimal, yakni 27 meter kubik per detik ke Tarum Barat, 52,5 meter kubik per
detik ke Tarum Timur, dan 80 meter kubik per detik ke Tarum Utara. Pemecahan
air menuju Tarum Barat dan Tarum Timur dilakukan di Bendung Curug. Adapun untuk
Tarum Utara dilakukan di Bendung Walahar.
Dilaporkan pula, pelepasan air bendung berangsur-angsur membuat
tinggi muka air (TMA) bendungan utama Waduk Jatiluhur menurun. TMA pada Rabu
siang 108,27 meter di atas permukaan laut (dpl), menurun dibandingkan dengan
pada Minggu malam yang mencapai 108,41 meter dpl atau Selasa pagi yang setinggi
108,39 meter dpl. Meski pelepasan air tiga bendung di Waduk Jatiluhur ke tiga
saluran induk telah dioptimalkan, debit air yang mengalir ke hilir Citarum
tetap tinggi. Debit air yang keluar dari Bendung Walahar, Rabu pagi mencapai
1.600 meter kubik per detik dan merupakan yang tertinggi dalam sebulan ini.
Hujan di hulu dan sejumlah anak sungai membuat debit tetap tinggi.
Naiknya muka air Citarum memperluas genangan banjir di Karawang.
Persawahan di kanan dan kiri sungai yang sebelumnya kering, seperti Desa Curug,
Kecamatan Klari; Desa Mulyasejati, Mulyasari, dan Kutapohaci, Kecamatan
Ciampel, mulai tergenang air pada Rabu pagi. Petani pun mempercepat panen untuk
menyelamatkan padi. Sejumlah jalan antarkecamatan dan antar desa/kelurahan yang
sebelumnya kering, seperti Jalan Raya Ranggagede, Jalan Raya
Tanjung Mekar, dan Rawagempol (Kecamatan Karawang Barat), Jalan Kertabumi,
serta jalanan di beberapa kawasan perumahan, seperti Perum Karaba Indah, Galuh
Mas, Sukaharja, Bintang Alam (Kecamatan Teluk Jambe Timur) juga mulai
tergenang. Banjir juga memicu kemacetan, terutama di akses menuju dan dari
Pintu Tol Karawang Barat.
B. Banjir
Danau
Terjadi karena air danau meluap atau bendungannya jebol. Contoh banjir danau
adalah banjir ketika melanda situ gintung pada tahun 2009. Berita banjir bandang
di Jakarta Jumat pagi (27/3/14) sangat mengejutkan.Dengan korban lebih dari 50
orang meninggal tentu saja ini sebuah bencana yang cukup serius terjadi di
dekat Ibu Kota lagi. Melihat sepintas pada peta-peta yang dikoleksi kesimpulan
sementara yang ada adalah “keringkan saja danau ini, dan jangan dibendung
lagi“. Kesimpulan ini mungkin mengagetkan karena disana ada sebuah
taman wisata yang sangat bagus. Namun alasan sederhana dibawah
barangkali perlu dipikirkan secara saksama.
C. Banjir
Laut pasang
Terjadi antara lain akibat adanya badai dan gempa bumi. Air pasang kembali melanda
kawasan Jakara Utara. Akibatnya beberapa ruas jalan mengalami kemacetan dan tak
jarang motor yang melintas pun akhirnya mogok. Seperti dilansir situs TMC Polda
Metro Jaya, Senin (12/1/2015) air pasang ini terdapat di enam titik ruas jalan
di antaranya, Jalan Martadinata Pos I dengan ketinggian air mencapai 10
cm.Kemudian, depan Pospol Volker setinggi 30 cm, Jalan Baru Ancol dengan
ketinggian air 20 cm, depan Alexis Pademangan setinggi 10 cm, dan Penjaringan
tepatnya Muara Baru Ujung setinggi 40 cm serta Teluk Gong setingi 30 cm. “Untuk
di Penjaringan karena ketinggian air pasang cukup tinggi, akibatnya banyak
motor yang mogok ketika melintas,” ujar petugas Satwil Jakut Aiptu Guntur. Dia
menambahkan saat ini walaupun terdapat air pasang, namun sejumlah arus lalu
lintas tidak sampai dialihkan oleh petugas. “Masih normal, hanya ketika
melintas dititik -titik tersebut kendaraan berjalan harus pelan -pelan karena
situasi benar-benar padat , ” jelasnya. (Ramdan)
2.3 Penyebab
Terjadinya Banjir
Sering sekali terjadinya banjir dan hampir setiap kali hujan,
maka pasti ada saja daerah yang terkena banjir. Secara umum, penyebab
terjadinya banjir adalah sebagai berikut :
Salah satu sebab utama perusakan hutan hujan dan terjadinya
banjir adalah penebangan hutan. Banyak tipe kayu yang digunakan untuk
perabotan, lantai, dan konstruksi diambil dari hutan tropis di Afrika, Asia,
dan Amerika Selatan.Dengan membeli produk kayu tertentu, orang-orang di daerah
seperti Amerika Serikat secara langsung membantu perusakan hutan hujan. Walau penebangan hutan
dapat dilakukan dalam aturan tertentu yang mengurangi kerusakan lingkungan,
kebanyakan penebangan hutan di hutan hujan sangat merusak.Pohon-pohon besar
ditebangi dan diseret sepanjang hutan, sementara jalan akses yang terbuka
membuat para petani miskin mengubah hutan menjadi lahan pertanian. Di Afrika
para pekerja penebang hutan menggantungkan diri pada hewan-hewan sekitar untuk
mendapatkan protein. Mereka memburu hewan-hewan liar seperti gorila, kijang,
dan simpanse untuk dimakan.
Penelitian telah menemukan bahwa jumlah spesies yang ditemukan
di hutan hujan yang telah ditebang jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah
yang ditemukan di hutan hujan utama yang belum tersentuh. Banyak hewan di hutan
hujan tidak dapat bertahan hidup dengan berubahnya lingkungan sekitar. Penduduk lokal
biasanya bergantung pada penebangan hutan di hutan hujan untuk kayu bakar dan
bahan bangunan. Pada masa lalu, praktek-praktek semacam itu biasanya tidak
terlalu merusak ekosistem. Bagaimanapun, saat ini wilayah dengan populasi
manusia yang besar, curamnya peningkatan jumlah orang yang menebangi pohon di
suatu wilayah hutan hujan bisa jadi sangat merusak. Sebagai contoh, beberapa
wilayah di hutan-hutan di sekitar kamp-kamp pengungsian di Afrika Tengah
(Rwanda dan Congo) benar-benar telah kehilangan seluruh pohonnya.
Di
Sumatera Selatan, khususnya di Palembang, Sungai Musi sangat berperan penting dalam
kehidupan perekonomian masyarakat Palembang. Tidak hanya dijadikan sebagai
sarana jalur transportasi, tapi juga banyak yang menggunakan airnya sebagai
bahan baku industri. Sebagai contoh, PT Pusri, perusahaan pembuat pupuk
berskala nasional, menggunakan air Sungai Musi sebagai bahan baku pembuatan
pupuk urea.Peranan Sungai Musi yang sangat vital dalam kehidupan hingga disebut
sebagai urat nadi Palembang saat ini mulai dihantui berbagai masalah.
Salah
satu permasalahannya, yaitu terjadinya pendangkalan sungai yang terus meningkat
setiap tahunnya.Tentunya hal ini bisa sangat merugikan bagi Pemprov Sumatera
Selatan.Apalagi saat ini Provinsi Sumatera Selatan sedang gencar-gencarnya
menarik minat para investor untuk menanamkan modal dalam berbagai sektor bisnis
di Sumatera Selatan. Jika pendangkalan ini terus berlanjut tanpa adanya
perhatian serius dari Pemprov Sumatera Selatan ataupun Pemkot Palembang, maka
bisa jadi dapat menghambat laju investasi di daerah ini.Alasannya tentu saja,
pendangkalan sungai tersebut menyebabkan kapal-kapal pengangkut muatan besar
tidak dapat menyeberangi Sungai Musi lagi. Pendangkalan yang terjadi di Sungai
Musi telah menyebabkan kedalaman sungai menjadi hanya berkisar sekitar 14-20
meter. Hal ini tentu saja mengakibatkan kapal-kapal pengangkut barang
berkapasitas besar tidak dapat lagi melewati Sungai Musi. Padahal para investor
yang hendak masuk ke Palembang justru menjadikan angkutan sungai sebagai
pertimbangan yang penting. Itu disebabkan oleh angkutan barang melalui sungai
merupakan yang paling murah jika disbanding kan dengan melalui jalur udara
ataupun jalur darat yang tentunya akan mengefesiensikan pengeluaran.
Secara
umum, pendangkalan sungai dapat terjadi karena adanya pengendapan partikel
padatan yang terbawa oleh arus sungai, seperti di kelokan sungai (meander),
waduk atau dam, ataupun muara sungai. Partikel ini bisa berupa padatan besar,
seperti sampah, ranting, dan lainnya. Namun, sumber utama partikel ini biasanya
berupa partikel tanah sebagai akibat dari erosi yang berlebihan di daerah hulu
sungai. Air hujan akan membawa dan menggerus tanah subur di permukaan dan
melarutkannya yang kemudian akan terbawa ke sungai. Proses transportasi
partikel semacam ini disebut sebagai suspensi. Hasil partikel yang terbawa ini
biasanya akan berupa lumpur tanah dan kemudian tersedimentasi di dasar sungai.
2.4 Dampak Negatif Dari Banjir
Banjir dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup berupa :
e.
Timbulnya penyakit-penyakit
2.5 Cara Mencegah Banjir
Hujan turun banjirpun
datang, begitulah fenomena yang kini terjadi di beberapa daerah di negeri kita ini.
Setiap musim hujan tiba, banyak orang selalu khawatir akan datangnya
banjir. Banjir di musim hujan dan kekeringan air di musim kemarau menjadi
masalah yang serius dari tahun ke tahun.Banjir menjadi agenda
tahunan bagi warga yang tinggal di daerah pinggiran sungai. Namun
jangan heran, dataran yang jauh dari sungai pun kini sudah tidak luput dari
banjir. Akhir-akhir ini, banjir tidak lagi terjadi di daerah pinggiran
sungai saja, namun banjir terjadi juga di daerah dataran tinggi. Hal ini
terjadi karena tanah sudah kehilangan fungsinya dalam menyerap air, akibat dari
maraknya penebangan hutan dan pembangungan gedung dan perumahan yang tidak
ramah lingkungan.
Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan agar dapat mengurangi
banjir tahunan, yaitu dengan menanam banyak pepohonan agar air hujan tidak
langsung mengalir ke sungai, tetapi tertahan pada akar pepohonan.
Kandungan air pada akar pepohonan akan berfungsi sebagai reservoir di musim
kemarau.
Mengolah sampah dengan benar. Tidak membuang sampah ke
sungai atau ke jalanan juga dapat mengurangi bahaya banjir. Jika sampah
dibuang sembarangan, sampah dapat menyumbat saluran-saluran air yang ada dan
mengakibatkan banjir saat hujan datang.
Mencegah banjir dengan
membuat sumur resapan adalah cara yang terbaik untuk daerah perkotaan. DKI
Jakarta sudah menerapkan kewajiban bagi warganya untuk membuat sumur resapan
melalui SK Gubernur DKI nomor 17 Tahun 1992, yang telah dijadikan Perda no.
17/1996, isinya mewajibkan warga Jakarta mebuat sumur resapan. Namun
karena biaya pembuatan yang cukup mahal, maka kebanyakan warga DKI tidak
melaksanakan aturan perda tersebut. Itu salah satu sebab mengapa banjir
selalu terjadi dan semakin parah saja setiap tahunnya.
Kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam menanggulangi
banjir sangat memegang peranan penting. Kurangnya kepedulian warga dan
lemahnya peran pemerintahan menjalankan peraturan yang ada, memicu masalah
banjir semakin buruk dari tahun ke tahun.
Pembangunan banjir
kanal didaerah Timur dan Barat DKI Jakarta diharapkan akan mengurangi
terjadinya banjir dimasa mendatang. Namun pembangunan kanal tersebut
tidak menjamin bahwa banjir tidak akan terjadi. Kepedulian warga tetap
memegang peranan penting dalam mencegah banjir. Tanpa ada partisipasi
masyarakat secara luas, banjir sudah dipastikan akan datang kembali.
Salah satu cara terbaru dengan biaya cukup murah untuk mengatasi
banjir ini adalah dengan mebuat lubang resapan biopori didalam
tanah. Biopori sendiri merupakan pori-pori berbentuk lubang (terowongan )
yang terbentuk oleh aktivitas organisme tanah dan pengakaran tanaman.
Aktivitas merekalah yang akan menciptakan rongga-rongga atau liang-liang di
dalam tanah, dimana rongga-rongga tersebut akan terisi udara yang menjadi
saluran air untuk meresap ke dalam tanah.
Bila lubang-lubang seperti ini dibuat dalam jumlah yang banyak,
maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air akan meningkat.
Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang
terjadinya aliran air di permukaan tanah. Dengan kata lain akan
mengurangi banjir yang mungkin akan terjadi. Karena air dapat diserap langsung
ke dalam tanah.
Peningkatan jumlah biopori tersebut dapat
dilakukan dengan membuat lubang vertikal kedalam tanah. Lubang-lubang tersebut
selanjutnya diisi bahan organik, seperti sampah-sampah organik rumah tangga,
potongan rumput dan vegetasi lainnya.
Bahan
organik ini melalui proses pengomposan, menjadi sumber energi bagi organisme di
dalam tanah. Dengan adanya bahan organik yang cukup, aktivitas
mereka didalam tanah akan meningkat. Dengan meningkatnya aktivitas
organisme dalam tanah maka akan semakin banyak rongga-rongga biopori yang
terbentuk.
Cara ini boleh dibilang murah dan mudah
dibuat dibandingkan dengan membuat sumur resapan yang memerlukan lahan luas dan
biaya bahan yang cukup besar. Lubang biopori
bisa dibuat dimana saja seperti gedung
perkantoran, taman dan kebun, pelataran parkir, halaman rumah terutama
disekitar rumah yang berlahan sempit sekalipun, dan juga bisa dibuat di dasar
parit. Dengan alat yang sederhana, pembuatan lubang biopori ini dapat
dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga juga.Metode Biopori ditemukan oleh Ir.
Kamir Raziudin Brata MSc, peneliti dan dosen Department Limu Tanah dan Sumber
Daya Alam IPB tahun 1976. Sebelum disosialisasikan ke masyarakat, ia
sudah memakainya selama 20 tahun lebih di lingkungan rumahnya.
Cara mebuat lubang resapan bioporiadalah
dengan carabuat lubang berbentuk silinder secara vertikal ke dalam tanah
dengan diameter 10 cm dan dengan kedalaman
lubang 80-100cm. Lubang resapan ini bisa dibuat halam rumah, didasar
saluran air (got), batas antara tanam dan teras, atau pada tanah lapang
berumput, dimana ada genangan dan aliran air hujan. Alat pembuat lubang
biopori dapat di beli di kampusIPB dan juga di Toko Trubus terdekat, seharga
Rp. 175.000,-.Agar pinggiran lubang tidak cepat rusak,
bibir lubang diperkuat dengan adonan semen selebar 2-3 cm dengan tinggi 10 cm,
disekeliling mulut lubang agar tidak cepat rusak terkikis. Atau memasang
pipa paralon diamerter 12 cm di bagian atasnya.Masukan sampah organik yang
berasal dari sampah dapur, sisa-sisa tanaman, daun yang terjatuh mengering,
potongan rumput dan sampah vegatasi lainnya kedalam lubang tersebut.
Sampah organik ini memancing binatang-binatang kecil seperti cacing atau rayap
masuk kedalam lubang dan membuat rongga biopori sebagai saluran-saluran kecil.
Sampah dalam lubang akan menjadi sumber
energi bagi organisme tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses
pengomposan. Sampah yang telah terurai oleh microba ini dikenal sebagai kompos
yang dapat dipergunakan sebagai pupuk organik. Melalui proses seperti itu
maka lubang resapan biopori selain berfungsi sebagai bidang peresap air juga
sekaligus berfungsi sebagai alat pembuat kompos.
Tambahkan
sampah organik kedalam lubang karena sampah lambat laun akan menyusut.
Setelah lubang dirasakan sudah penuh, kompos bisa diambil untuk dijadikan pupuk
tanaman. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan
dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman, seperti tanaman
hias, sayuran, buah-buahan dan jenis tanaman lainnya.
2.6 Cara Penanggulangan Banjir
Ketika banjir datang,
selalu terjadi saling menuding tentang siapa yang salah. Di lain pihak, para
ahli cendekia lalu sibuk mengeluarkan pendapat tentang apa dan mengapa terjadi
banjir. Ketika banjir surut, perhatian akan banjir ikut surut pula. Kemudian
ribut-ribut lagi ketika musim berganti dan banjir datang berulang.
Secara filosofis, ada tiga metode penanggulangan banjir.Pertama
memindahkan warga dari daerah rawan banjir.Cara ini cukup mahal dan belum tentu
warga bersedia pindah, walau setiap tahun rumahnya terendam banjir.Kedua
memindahkan banjir keluar dari warga.Cara ini sangat mahal, tetapi sedang
populer dilakukan para insinyur banjir, yaitu normalisasi sungai, mengeruk
endapan lumpur, menyodet-nyodet sungai.Faktanya banjir masih terus akrab
melanda permukiman warga.Ketiga hidup akrab bersama banjir.Cara ini paling
murah dan kehidupan sehari-hari warga menjadi aman walau banjir datang, yaitu
dengan membangun rumah-rumah panggung setinggi di atas muka air banjir.
Secara normatif, ada dua metode penanggulangan banjir.Pertama,
metode struktur yaitu dengan konstruksi teknik sipil, antara lain membangun
waduk di hulu, kolam penampungan banjir di hilir, tanggul banjir sepanjang tepi
sungai, sodetan, pengerukan dan pelebaran alur sungai, sistem polder, serta
pemangkasan penghalang aliran.
Anggaran tak seimbang dalam
pertemuan-pertemuan antar pemangku kepentingan (stakeholder) tentang
penanggulangan banjir, telah ada political will dari pemerintah, yaitu akan
melaksanakan penanggulangan banjir secara hibrida, dengan melaksanakan gabungan
metode struktur dan nonstruktur secara simultan. Bahkan, telah dibuat dalam
perencanaan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.Namun, dalam
implementasinya, penanggulangan banjir yang dilakukan pemerintah masih sangat
sektoral, alokasi anggaran antarsektor tidak seimbang.Anggaran penanggulangan
banjir metode struktur alias konstruksi teknik sipil lebih besar dibandingkan
dengan anggaran metode nonstruktur yang lebih berbasis masyarakat.Padahal,
penanggulangan banjir dengan metode nonstruktur berbasis masyarakat tidak kalah
pentingnya.
Pertama, berupa
manajemen di hilir di daerah rawan banjir, antara lain pembuatan peta banjir,
membangun sistem peringatan dini bencana banjir, sosialisasi sistem evakuasi
banjir, kelembagaan penanganan banjir, rekonstruksi rumah akrab banjir,
peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir,
serta kemungkinan asuransi bencana banjir.
Kedua, berupa
manajemen di hulu daerah aliran sungai, antara lain pengedalian erosi,
pengendalian perizinan pemanfaatan lahan, tidak membuang sampah dan limbah ke
sungai, kelembagaan konservasi, pengamanan kawasan lindung, peningkatan
kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi.
Hingga dekade yang lalu, cita-cita para ahli banjir masih terus
mengumandangkan slogan "bebas banjir" dengan memaksakan teknologi
untuk melawan banjir, antara lain sodetan, tanggul sungai, bendungan, dan
sebagainya.Namun, dalam diskusi dan publikasi mutakhir tentang manajemen
bencana banjir, terjadi perubahan paradigma. Di Vietnam, khususnya warga yang
hidup di DAS Mekong, yang semula bermimpi untuk bebas dari banjir (free from
flood), akhirnya memutuskan hidup bersama banjir [living with flood), antara
lain dengan mengubah rumah-rumah mereka menjadi rumah panggung.
Saat ini, banyak institusi penelitian yang melakukan penelitian
konsep rumah akrab banjir, salah satunya Pusat Penelitian dan Pengembangan
Permukiman (Puskim), di Jalan Pa-nvaungan. Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung.
Ada yang unik dari desain rumah akrab banjir kreasi peneliti Puskim ini, bukan
berupa rumah panggung, tetapi rumah apung, yang bisa naik turun sesuai
ketinggian banjir.Apa pun desainnya, sebaiknya kreasi para peneliti ini segera
diimplentasikan di daerah rawan banjir bekerja sama dengan dunia usaha.Mengajak
masyarakat membangun rumah panggung merupakan tantangan tersendiri, selain
perlu uang ekstra untuk rekonstruksi rumah, juga perlu sosialisasi membiasakan
diri hidup di rumah panggung. Namun, cara hidup akrab bersama banjir seperti
ini relatif lebih murah dan berkelanjutan dibandingkan dengan cara relokasi
maupun penerapan metode teknologi penanggulangan banjir yang belum tentu
berhasil.Tentunya komitmen hidup akrab bersama banjir, tetap dilandasi semangat
tidak melanggar peraturan yang berlaku. Misalnya Perda Provinsi Jawa Barat
Nomor 2 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung yang mengamanatkan
perlunya perlindungan terhadap sempadan sungai untuk melindungi fungsi sungai
dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kondisi sungai serta
mengamankan aliran sungai. Salah satu kriteria sempadan sungai disebutkan, sekurang-kurangnya
tiga puluh meter dihitung dari tepi sungai untuk sungai yang tidak bertanggul.Penanggulangan
banjir memang kompleks, apalagi masyarakat tidak diajak berperan, jadi memang
pantas ada sindiran bahwa sejak tiga dekade lalu telah sejuta rencana, tetapi
penanggulangan banjir belum juga berhasil.
2.7 Rincian Cara Menanggulangi
Banjir
Berikut adalah rincian cara menanggulangi banjir agar terhindar dari
bencana banjir :
1. Memfungsikan sungai
dan selokan sebagaimana mestinya. Karena sungai dan selokan merupakan tempat
aliran air, jangan sampai fungsinya berubah menjadi tempat sampah.
2.
Larangan membuat rumah di dekat sungai.
Biasanya, yang mendirikan rumah di dekat sungai adalah para pendatang yang
datang ke kota besar hanya dengan modal nekat. Akibatnya, keberadaan mereka
bukannya membantu peningkatan perekonomian, akan tetapi malah sebaliknya
merusak lingkungan. Itu sebabnya pemerintah harus tegas, melarang membuat rumah
di dekat sungai dan melarang orang-orang tanpa tujuan tidak jelas datang ke
kota dalam jangka waktu lama atau untuk menetap.
3. Menanam pohon dan
pohon-pohon yang tersisa tidak ditebangi lagi. Karena pohon adalah salah satu
penopang kehidupan di suatu kota. Banyangkan, bila
sebuah kota tidak memiliki pohon sama sekali. Apa yang akan terjadi? Pohon
selain sebagai penetralisasi pencemaran udara di siang hari, sebagai pengikat
air di saat hujan melalui akar-akarnya. Bila sudah tidak ada lagi pohon, bisa dibayangkan
apa yang akan terjadi bila hujan tiba.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Bencana banjir ini sangatlah rawan dan banyak terjadi
di berbagai daerah di negeri kita, misalnya di Jakarta, Bandung, dan
kota lainnya yang tidak kalah besar dan banyak memakan korban.Sebenarnya
penyebab utama dari banjir itu adalah akibat dari perbuatan manusia sendiri,
misalnya saja adanya penebangan pohon secara liar di hutan, maka terjadilah
banjir, kemudian adanya pembuangan sampah sembarangan sehingga mengakibatkan
aliran air tersumbat, maka terjadilah banjir.Cara yang paling efektif untuk
mencegah banjir adalah dengan adanya sikap atau perilaku menjaga
kebersihan lingkungan hidup kita. Dan cara yang efektif untuk menganggulangi
ketika terjadinya banjir adalah membuat rumah akrab banjir.
3.2 SARAN
Saran dari Kelompok 1 adalah “Marilah Kita Menjaga Lingkungan
Ini Agar Tidak Terjadi Hal-hal yang Tidak Diinginkan Semisal Banjir”.
Bencana banjir yang sering kita alami yang mengakibatkan
terjadinya longsor, kehilangan tempat tinggal bahkan sampai korban jiwa yang
disebabkan oleh kesalahan manusia itu sendiri yang kurang sadar akan
lingkungannya sendiri, seperti membuang sampah sembarangan, menebang pohon
secara liar, dll. Saat bencana terjadi pemerintah selalu yang disalahkan
padahal kita sendiri lah yang harus sadar akan lingkungan. Karena kalau bukan
dari kita yang memulai siapa lagi, lingkungan ini adalah lingkungan kita yang
penting untuk dijaga kebersihan dan kelestariannya untuk meningkatkan
kualitas hidup kita. Jaga kebersihan dan kelestarian lingkungan juga merupakan
kewajiban bagi kita agar terhindar dari bencana banjir yang akan membawa
bencana yang lainnya, seperti kematian yang diakibatkan penyakit yang menyerang
saat banjir, mari kita tingkatkan kesadaran akan lingkungan dan tidak lupa
ajarkan kepada anak-anak kita menjadi kebiasaan dalam menjaga kebersihan
lingkungan agar anak cucu kita bisa merasakan nyamanya tinggal di lingkungan
yang bersih, jauh dari bencana banjir dan segala penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal :
A, Ritonga. 2001.
Lingkungan Hidup. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI.
Brown, L.R. 1992.
Penanggulangan Banjir. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Darmawijaya, Isa. 1990.
Bencana Banjir. Yogyakarta: Gajahmada University Press.
Situs Web :
